Search

Deni Suryana

Hidup Akan Berarti Saat Kita Sanggup Berbagi

Author

Deni Suryana

Seorang Anak Kampung yang dibesarkan, tumbuh dan dididik di Desa. Saat ini sedang belajar menjadi perantau. Saat ini sedang belajar menulis, Belajar Berbagi, dan Belajar memperbaiki dan berbenah diri.

Selamat Menikmati Mudik

Aku meninggalkan masa laluku dan aku belajar menjadi lebih baik. Tanpa melupakan dari mana aku berasal.

Rindu rumah dan keluarga? Tak usah ditanya, karena itu gak bisa diungkapkan dengan kata atau dijelasin dengan kata-kata.

Rumah adalah obat terampuh untuk semua kerinduan dan penyemangat, mood buster disaat terpuruk, down, terseok. Sebagaimana kalimat pertama diatas , aku meninggalkan masa laluku untuk belajar menjadi lebih baik.

Diperantauan kita belajar tentang rindu, tegar, mandiri dan kegetiran lainnya.

Selamat menikmati arus Mudik. Semoga selamat sampai tujuan dan bisa berkumpul dengan keluarga tercinta, sebagai bukti bahwa kita tidak akan pernah lupa dari mana kita berasal.

Siap Menang, Gak Siap Kalah

Pagi ini headline news isinya masih membahas hiruk pikuk tentang Pilpres dan Pileg serentak 2019 yang sudah dilewati dan dilaksanakan pada 17 April 2019. Stop, bahasan tentang ini hanya sampai disitu saja.

Kita akan Coba membahas tentang Sikap dalam berkompetisi. Sejak sekolah di SD (kebetulan saya tidak mengenyam pendidikan di Paud/ TK) saya sering kali mengikuti namanya perlombaan atau kompetisi, mulai dari Lomba Nadoman (Lomba puji-pujian di Sekolah Agama), Lomba Sepak Bola antar kelas, antar sekolah, antar RT, antar Kampung. Continue reading “Siap Menang, Gak Siap Kalah”

“Anak Bodoh”

Semalam Saya mendengar sebuah cerita di Radio. Cerita tentang Anak Paling Bodoh.

Cerita nya kurang lebih seperti ini :

Suatu hari ditempat cukur/ barbershop seorang pemuda yang sedang dicukur ngobrol dengan tukang cukur. Ditengah asyik berbincang Paman Tukang Cukur menunjuk seorang anak kecil yang sedang duduk duduk didepan Barbershopnya. Continue reading ““Anak Bodoh””

Batu dan Penyesalan

Ada sebuah danau di China terdapat banyak batu-batuan dan terdapat sebuah papan bertuliskan:

Yang mengambil batu
akan menyesal.
Yang tidak mengambil batu
juga akan menyesal” Continue reading “Batu dan Penyesalan”

Trik Agar Lamaran Dibaca Recruiter

Seberapa yakin anda dengan CV yang dikirim ke headhunter/ recruiter akan dibaca? atau minimal diterima dengan baik? Mungkin banyak diantara pencari kerja yang asal-asalan mengirimkan CV nya entah karena tidak tahu atau karena malas. Continue reading “Trik Agar Lamaran Dibaca Recruiter”

Delay itu Sangat Merugikan Kami

Hari ini saya senang sekali bisa mengambil waktu untuk bisa pulang ke rumah di Balikpapan. Karena sudah hampir dua bulan tidak pulang dikarenakan pekerjaan. Saya membeli tikat Lion Air dengan kode penerbangan JT0940 penerbangan pukul 19.20 WITA dan tiba di Balikpapan 20.10 WITA.

Sayangnya sejak di counter Check In saya sudah diinfokan akan ada delay sekitar 90 menit infonya karena anu dan itu. Jujur saya sangat kecewa dengan Delay ini. Sebagai orang yang sering jauh dari keluarga waktu 90 menit sangatlah berguna untuk durasi betemu dengan keluarga.

Saat diruang tunggu ada pengumuman dari embak-embak memberitahukan bahwa delay atau keterlambatan terjadi sampai pemberitahuan lebih lanjut. Tanya kebagian informasi belum tahu akan berapa lama lagi delay-nya.

Ibu/ Bapak mohon posisikan posisi Ibu/ Bapak berada diposisi penumpang. kami sudah pontang-panting dari rumah dari kantor agar tidak terlambat, namun ternyata begitu sampai bandar katanya terjadi keterlambatan. bagi kami waktu 1 menit pun sangat berarti apalagi jika keterlambatan berjam-jam. Waktu kami bersama keluarga akan semakin berkurang.

Sangat mengecewakan!

Selain waktu yang hilang akibat delay, masih banyak lagi hal lain yang sangat merugikan penumpang/ pelanggan. Kelelahan menunggu, bete, jenuh, emosi, mau marah, dongkol. Pernahkah Ibu/ Bapak memikirkan itu? Dimana letak service excellent-nya? Pernahkan memikikan tentang tujuan penumpang? keperluan penumpang ketika membeli tiket dengan jam tertentu?

 

Asal Kerja, Kerja Asal

Banyak sekali saat ini orang “Asal Kerja”. Asal dapat kerjaan, asal dapat penghasilan, asal gak dibilang nganggur, asal gak dibilang gak ada kerjaan.

Karena semboyannya Asal Kerja, kerjanya pun Asal-asalan. Kerja Asal, asal datang ke kantor, asal dilihat bos ada ditempat. Sehingga tidak ada improvement dalam melaksakan pekerjaannya. Harus selalu diingatkan, karena tidak ada effort dalam jiwanya.

Hasil kerjanya pun asal, banyak kesalahan, seperti bekerja tidak serius. Ini banyak sekali ditemukan, dan banyak membuat supervisor atau manager stress sendiri. Selain Manager dan Supervisor yang stress si karyawan pun akan ikut stress, karena kerja asal-asalan hasil kerjanya pun akan asal-asalan.

Efek lain adalah si karyawa jadi tidak enjoy dengan pekerjaannya, menjadi stress dan menjadi tidak bangga apalagi bahagia dengan pekerjaanya. Akhirnya, mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Dari sisi perusahaan ini jelas tidak baik, karena si karyawan jadi tidak produktif.

Continue reading “Asal Kerja, Kerja Asal”

Bekerjalah dengan Sepenuh Hati

Jika bekerja (mencari nafkah) itu salah satu bentuk pengabdian dan ibadah, lalu kenapa masih banyak orang yang leha-leha dan tidak bekerja dengan sungguh-sungguh?. Bagi banyak orang, mereka bekerja hanya menggugurkan kewajiban. Datang ke kantor, absen, melakukan aktifitas dengan leha-leha. Continue reading “Bekerjalah dengan Sepenuh Hati”

2019 Akan Lebih Gaduh dari 2017

Alhamdulillah Pilkada 2017 Putaran kedua di DKI Jakarta berlangsung sejuk damai. Saya menyaksikan berbagai channel televisi yang melaporkan dan memantau secara langsung. Kagiatan Pilkada ini damai.
Pilkada Jakarta hanya foreplay, coba-coba strategi para konsultan pemenangan dan team pemenangan Pilkada dan Pilpres. Jika strategi yang ini bagus dan berhasil, saya meyakini bahwa strategi ‘perang’ pada pilpres akan menggunakan cara-cara yang sama atau mirip dengan Pilkada Jakarta. Atau bahkan lebih panas lagi.
 
Mengaduk emosi para simpatisan, mengaduk jiwa para pemilih, mengoyak-ngoyak rasa para pendukung setia. Hingga saling bermusuhan karena pilihan politik, hingga saling melemparkan umpatan, hinaan, cacian, kata-kata kotor yang tidak layak dipertontonkan.
 
Kita bisa saksikan dengan mata telanjang, banyak sekali status, spanduk, atau perlengkapan kampanye lainnya yang isinya berisi kata-kata yang tidak layak untuk menyerang lawan politik.
 
Sekali lagi ini masalah politik, meskipun sering kali dibumbui oleh Agama, Ras, Suku, dan hal lainnya. Menurut sebagian orang ini murni masalah agama, bagi sebagian yang lain ini politik yang diaduk dengan dibumbui Agama sehingga lebih joss lebih nendang, lebih gurih.
 
Dengan dilakukannya pemungutan suara Jakarta hari ini, saya sangat ingin, tidak ada lagi permusuhan, pertikaian, perselisihan hanya karena pilihan politik.
 
Indonesia damai, Indonesia maju, Jakarta sejuk, Jakarta sejahtera.
 
Saya bukan orang jakarta tidak pula tinggal di Jakarta, hanya pernah ikut merasakan jalanan jakarta, hanya pernah merasakan bagaimana sumpeknya pemandangan saat terjadi kemacetan.
 
Salam Damai
 
#tetapsemangat #kerja #pilkada
 

 

 

Up ↑

%d bloggers like this: