Hari minggu ini untuk mencegah munculnya sifar malas saya memutuskan untuk tetap ngantor. Nganto agendanya membereskan beberapa pekerjaan yang belum selesai, ya tujuannya 1 supaya tidak ada yang miss. Ada yang tanya tidakkah capek? Tidak kah lelah? dengan jadwal kerja yang sekarang? Ini minggu lho, waktunya relaks, nyantai, istirahat.

Ya, jika dibilang lelah pastilah ada rasa itu. Tapi apakah kita harus menyerah dengan rasa cepak dan lelah? Tidak. Capek dan Lelah hanya bentuk sebuah side effect dari kerja keras dan pengorbanan untuk apa yang menjadi tujuan kita.

Sering kali orang mengeluh capek dengan pekerjaan yang ada, lelah, dan berbagai umpatan lainnya yang membuat hidup jadi tidak bergairah. Semestinya kita bersyukur masih disibukan dengan pekerjaan yang sedang kita lakukan, ribuan orang disana setiap hari menyebar CV, interview kesana kemari untuk mendapat pekerjaan atau hanya untuk sekedar mendapat pekerjaan seperti yang saat ini kita keluhkan.

Capek, lelah, jenuh adalah hal biasa yang akan selalu kita rasakan ketika sampai ketitik tertentu. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk “mengobatinya”.

  1. Ingat tujuan besar/ akhir yang ingin kita capai
  2. Ingat bahwa ibadah bukan hanya rutinitas keagamaan, jangan lupa bahwa kerja menafkahi keluarga adalah bagian dari ibadah.
  3. Break sejenak, saat terasa enek. Ambil waktu jeda 15-30 menit. Bagi seorang muslim jeda dapat diambil saat shalat Dhuhur, Ashar. ini sangat membantu menghilangkan suntuk.
  4. Sediakan minuman favorite, misal teh atau kopi. Kadang pikiran yang runyam dapat dijernihkan dengan segelas kopi/ teh.

Kerja bukan sekedar memenuhi kewajiban, hanya sekedar formalitas namun sebuah panggilan jiwa. Terlebih bagi kita yang menggeluti profesi tertentu (spesialist) tentu perlu effort yang lebih untuk mencapai tujuannya.

Lalu, haruskah kita menyerah dengan lelah? Lelah boleh saja, tapi jangan menyerah!

Advertisements