Tangis Lelaki

TIDAK ada yang salah dari mata yang melenggangkan tetes demi tetes air yang tereram di dalamnya. Tidak ada yang salah ketika suara menjadi parau dengan sesak dada yang terasa. Bukan perkara hati yang terlalu ringkih. Bukan perkara jiwa yang mengisi waktu dengan kesia-siaan belaka.

Tapi tentang kenapa air mata itu meliuk liku basahi pipi dari jiwa yang hatinya tersentuh. Tentang apa yang kemudian dirasa ketika tangis yang mendera jiwa dan raga telah usai.

Bagaimana bisa lelaki membenci dan menolak tangis. Sedang jelas dosa menghambur pada setiap jejak langkah yang ada. Wahai jiwaku yang setiap doa terungkap rindu padanya (Rasulullah).

Mengapa harus malu pada tangis yang terurai. Sedang dalam hadits beliau bersabda: “Tidaklah seorang mukmin mengeluarkan air mata dari kedua matanya walaupun sebesar kepala ekor lalat karena takut kepada Allah, kemudian ia mengenai wajahnya melainkan Allah akan membaskannya dari neraka.” [HR. ibnumajah No.4187].

Wahai jiwaku yang hanya pada-Nya engkau akan kembali. Masihkah rasa malu bertahan menahan air matamu? Sedang kematian itu sangat dekat. Tidakkah engkau tahu bahwa telah jelas dalam sebuah kisah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama-sama mengantarkan jenazah, dan tiba saatnya ketika dia duduk di sisi kuburan dan menangis hingga membasahi tanah. Lantas ia mengingatkan pada yang lainnya untuk bersiap-siap pada hal seperti itu (kematian). Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sungguh hanya pada Allah kita akan kembali.

Wahai jiwaku yang telah Allah titipkan padamu segumpal daging yang disebut hati. Masihkah engkau enggan menangis? Dan terus mempertahankan tawamu dengan berlebihan. Tidakkah engkau tahu bahwa dalam sebuah kisah, Rasul telah menyampaikan bahwa tawa mampu mengeraskan hatimu. Tidakkah engkau malu ketika bibir merapal doa, memohon ampun dan merindu surga, sedang hatimu kian keras di hadapan-Nya.

Tidak ada yang salah dari mata yang mengurai tangis. Sebab Allah menganugerahkan air mata pada setiap hamba-Nya. Bukan hanya pada kaum hawa semata. Bukan hanya pada golongan yang lemah saja. Bukan bentuk keringkihan hati. Bukan wujud kelemahan jiwa. Tapi sebagai jalan untuk manjadi sosok yang semakin mengingat dan takut akan dosa. Sebagai sarana pelembutan hati. Sebagai pengingat akan waktu yang lupa dirindu, waktu yang akan datang menjemput tanpa pernah kita tahu kapan, yang akan menghantarkan kita menjuju alam keabadian.

Ketika lelaki menangis, maka bukan soal kelemahan. Tapi soal kenapa air mata itu terurai.

#catatankakilangit #believe #dream #bod

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s