Siapa yang Untung?

Hiruk pikuk politik Jakarta jadi konsumsi Secara Nasional. Emosinya pun sampai ke daerah-daerah. Sungguh luar biasa!!! Kenapa demikian? Hmmm… You Know lah ya? kenapa bisa begini panasnya, ada bumbu pecel, ada bumbu pedas didalamnya. Bahkan ada bumbu nasi kebuli, jadilah Gurih dan menggoda semua orang mengkonsumsi beritanya.

Namun sayangnya dalam prosesnya tidak ada pendewasaan sikap bagi para voters – pemilih – pemilik suara. Yang terjadi malah sebaliknya, pendangkalan pola pikir, adu domba dan politik tidak santun.

Ada cacian? Ada teror? Ada salah tafsir?

Mungkin dibalik kisruh ini, ada sutradara yang sedang tersenyum tertawa terbahak menyaksikan anak bangsa diadu dalam panggung pokitik yang sepertinya sudah hilang fitrah.

Kita semestinya sadar, bahwa semua ini ada yang menyutradarai. Sengaja memecah. Saran saya, semua pihak menahan diri. Kembali merenung apa tujuan dari politik ini? Siapa yang diuntungkan?

Kita tahu siapa yang untung bukan? Orang yang teriak teriak? Bukan! Kita semua akan tahu siapa yang untung. Mereka mendulang jutaan dolar dari berita panas Pilkada DKI. Ya, ada pihak yang sangat diuntungkan. Silahkan cek, mereka berlomba memberitakan. Semua membuat acara debat khusus, talk show, dll untuk bahas Pilkada DKI. Tinggal tambah “garam” naiklah rating, banyaklah pembaca, banyaklah yang share. Dolar pun diraup.

Kita juga mafhum bahwa mereka yang berteriak lantang, turun ke jalan hanya diprovokasi, atas nama ini dan itu. Akhirnya mereka berkerumun dan turunlah ke jalan melakukan aksi, long march, berteriak lantang akhirnya nasi bungkus dan air minum dalam kemasan datang. Yah, mereka cuma dapat itu. Dan 1 lagi label yang sering diteriakan. Ah, semoga.

Rasanya terlalu naif jika kita harus berperang, harus bersitegang, harus beradu kekuatan hanya untuk 1 kursi Gubernur dan 1 Kursi Wakil Gubernur.

Agama memang mengajarkan kita harus berpolitik. Namun bukan politik yang saat ini sudah kluar dari fitrahnya. Umat harusnya menarik diri, lakukan konsolidasi internal. Kuatkan kaderisasi, kuatkan tekad pemilih, yakinkan mereka. Tidak perlu berdemo! Bukankah pernah ada argument Pilkada ini adalah adu program bukan adu urat apalagi adu agama. Please, hentikan!

Rakyat kita sudah cerdas bukan? Termasuk yang membaca tulisan ini.

Mulailah memproduktifkan diri sendiri, sibukan diri dengan hal positif, berpolitik dengan santun. Mengedepankan logika, realita dan tentu saja hati nurani.

Ah, jadi meracau…

Sedikit catatan, semoga mencerahkan

#catatankakilangit #dream #bod #believe #36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s