Pertentangan Langkah

Saya tak menyangka, kalau akan begini kebingungan yang saya temui di pertentangan langkah-langkah. Jauh dari bayangan. Dahulu saya menganggap, lingkaran masalah adalah soal bagaimana cara kita memandang sebuah lingkaran, apakah kita berada di dalam atau berada di luar lingkaran masalah itu. Semuanya menjadi mudah dan bisa teratasi.

Kata kunci paling mujarab untuk mengelabui masalah adalah, semua masalah pasti punya solusi. Hanya soal waktu masalah akan terjawab. Kata bijak itu tak pernah keliru, setidaknya saat kita berada di luar sebuah lingkaran masalah. Saya merasa, kemampuan memahami kalimat optimis itu tidak dibatasi oleh umur dan pengalaman. Sepenuhnya adalah soal mengelolah emosi.

Ada banyak hal yang tidak mudah diselesaikan dengan mengandalkan kata bijak atau sekadar motivasi dari seorang sahabat. Di usia yang tidak remaja lagi, saya mencandui kalimat motivasi. Ilmu memang tak pernah cukup untuk jadi bekal hidup, tantangan berubah artinya kita butuh jurus yang lebih baru dan lebih baik untuk memenangkannya.

Kitab dan buku-buku bacaan harus selalu ditambah. Karena level masalah juga akan semakin meningkat. Bukankah untuk setiap kenaikan level kita sebagai manusia, kita akan melewati ujian-ujian yang setarah dengan level baru yang akan kita sandang.

Pernyataan ini sama sekali tidak untuk menegaskan bahwa usia dan level manusia adalah dua hal yang linear. Karena kenyataan, banyak juga manusia yang telah berumur, namun level kehidupannya masih setarah dengan para pemuda yang telah melewati badai di usia muda.

Mungkin ini hipotesa yang agak keliru karena mencoba membandingkan manusia dari kacamata subjektif kita sebagai manusia pengamat. Tetapi, kita diberikan hak untuk menginderai dan menilai sesuatu yang kita lewati. Itulah hak hidup kita sebagai manusia sosial.

Hidup tidak hanya sebatas quo vadis yang memberi garis pada langkah-langkah yang akan kita tempuh. Bahkan seringkali, pertentangan langkah yang kita temui akan berujung enigmatis. Tanpa jawaban yang realistis. Masalah justru menjadi seperti kutu loncat dan semakin membelah diri. Menjadi lebih komplit.

Manusia memang sepantasnya setiap saat bersiap dan berserah diri pada Tuhan atas masalahnya. Merenungkannya pada sepertiga malam yang panjang, menyelesaikannya pada siang hari yang diberi sinar mentari. Sebisa mungkin, dalam menyelesaikan langkahnya bisa menjadi workaholic sekaligus platonic.

Tulisan ini adalah peringatan bagi diri saya sendiri. Menghadapi pertentangan langkah adalah sebuah masalah, namun juga adalah sebuah karunia atas masih adanya pilihan dan kemungkinan yang diberi untuk melangkah. Saya belum putus asa menemukan langkah terbaik. Tidak perlu saya paparkan kemana saja langkah yang dipertentangkan itu. Saya sudah cukup untuk mengetahui letak kebimbangan yang menunggu dituntaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s