Haus Kekuasaan

Senin pagi, matahari bersinar sangat terang dan menghangatkan kota Balikpapan setelah selama 2 hari diguyur hujan. Alhamdulillah masih ada umur dan kesempatan untuk menjalani hari.

Pagi ini saya ingin sedikit menulis tentang kekuasaan dan orang yang haus kekuasaan. Proses Pilpres 2014 dan proses gugatan yang dilayangkan oleh Kubu Prabowo Hatta sangat menyita waktu dan membuat pemirsa ‘lelah’. Saya secara pribadi sudah malas menyaksikannnya, karena semakin ngawur terlebih setelah menyaksikan persidangan banyak saksi yang bilang ‘katanya’.

Saya semakin yakin bahwa ada pihak yang sangat ingin berkuasa dan menginginkan kemenangan dengan cara yang tidak baik. Okelah, ini demokrasi. Semua berhak menggugat jika merasa dirugikan atau prosesnya dianggap tidak demokratis. Namun jika isi gugatannya hanya mengada-ada, saya bilang keterlaluan.

Itu salah satu contoh orang yang haus kekuasaan di ranah nasional. Tidak hanya ditingkat nasional bahwa ditingkat yang bisa dibilang struktur negara terendah pun contohnya desa banyak orang sangat ingin berkuasa dan sangat ingin menang dalam pemilihannya. Sehingga tidak mau mengakui kekalahan dan terus merongrong pemerintahan yang ada yang nota bene adalah hasil yang sah berdasarkan konstitusi.

Saya tidak habis dengan orang yang sangat berkuasa, apa yang ada dipikiran mereka? Apa yang ada diotak mereka? Apakah mereka ‘gila hormat’? Apa yang ingin mereka kejar ketika nantinya tampuk kekuasaan berada ditangan mereka?

Ketika seseorang sangat berambisi memiliki kekuasaan saya sangat yakin orang tersebut memiliki misi ‘terselubung’ yang akan mereka lancarkan ketika mereka memangku kekuasaan. Entah untuk kepentingan pribadi maupun orang-orang disekitar mereka.

Dan ketika seseorang memiliki ambisi yang berlebihan akan kekuasaan maka akan banyak norma yang akan mereka dobrak, baik norma agama maupun norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Sudah tidak ada lagi saudara, tidak ada lagi sahabat, tidak ada lagi teman.Ketika mereka bersebarangan maka akan mereka hancurkan.

Saya sangat yakin ketika birahi mereka akan kekuasaan sangat besar maka setan-setan tidak beradab akan merasuk dalam pikiran mereka sehingga yang ada kebencian, kedengkian dan dendam kesumat. Semoga Allah selalu bersama orang-orang istiqamah dalam kebaikan.

Mengakhiri tulisan ini, sebelumnya saya hanya ingin menyampaikan, bahwa kekuasaan itu bukanlah tujuan hidup, kemenangan bukanlah sebuah keharusan dan kekalahan tidaklah menurunkan harga diri kita. Jadilah ksatria, ketika kalah akuilah bahwa kita kalah. Ketika Kita menang janganlah jadi orang yang sombong.

Jadilah ksatria jangan bersembunyi diketiak orang lain atau diatas nama orang lain. Jadilah ksatria, jangan jadi pengecut dan jangan jadi bedebah!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s