Merindukan Sosok Ayah

Kita tidak akan pernah bisa memilih untuk lahir dari siapa, begitu pula kita tidak akan bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tua kita. Sehingga bisa saja kita terlahir dikeluarga yang religius atau bahkan dari keluarga gangster. Semua adalah hak prerogatif Allah SWT untuk menentukannya.

Sama seperti yang saya alami, saya terlahir di keluarga yang amat sederhana. Jauh dari yang namanya kekayaan harta, dulu ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan bapak saya seorang pedagang di pasar. Hingga akhirnya mereka berpisah, ibu saya pun memutuskan bekerja di Kota dengan meninggalkan saya bersama nenek saya di Kampung.

Saya yakin, ini adalah keputusan terberat yang pernah Ibu saya buat. Meninggalkan anaknya bersama nenek yang tidak lagi fit karena usia. Saya meyakini, bahwa Ibu saya memutuskan bekerja ke Kota adalah untuk masa depan saya. Luar biasa, betapa berat perjuangan yang Ibu saya jalani untuk membesarkan anaknya.

Dalam perjalanan waktu, setelah saya selesai kuliah, ibu saya kembali ke kampung dan gantian saya yang merantau, saya sering merenung. Betapa luar biasa, betapa hebatnya Ibu dan nenek saya. Mereka bersinergi membesarkan saya dengan baik dan benar. Semua didikan yang diberikan kepada saya sangat terasa saat ini. Terima kasih mah, terima kasih ema.

Nenek selalu berusaha berusaha menghadirkan kasih sayang yang luar biasa. Sehingga saya tidak kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ibu dalam perjalanan hidup saya meski Ibu saya jauh. Namun satu sosok yang hingga kini saya belum bisa saya dapatkan. Yaitu sosok ayah, sosok bapak.

Saya sangat merindukannya dalam kehidupan saya, sejak ibu dan bapak berpisah saya tidak lagi merasakan lagi yang namanya kasih sayang dari seorag ayah. Sedih memang jika mengingatnya, betapa perpisahan orang tua menyisakan banyak luka di hati dan kehidupan anak.

Setelah besar setelah bertahun-tahun tidak bertemu saya kembali bertemu dengan Bapak saya, saya sangat bersyukur. Meski rasanya sudah terlambat baginya untuk menemui saya, namun paling tidak saya tahu bahwa ayah/ bapak saya masih ada. Hingga kini, meski komunikasi kami cukup baik namun saya belum merasakan seperti apa kasih sayang ayah pada anaknya. Meski demikian, saya bersyukur.

Terima kasih ya Allah, dan Ampuni semua dosa dan kesalahan kedua orang tua saya. Amiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s