Menikmati Pekerjaan

Jam 9 malam, seorang kawan curhat melalui pesan pendek: “Aku masih menulis laporan di kantor, jam segini belum bisa pulang ke rumah..  ” Akhir-akhir ini ia mengaku semakin tertekan bekerja di kantor. Ia harus datang tepat waktu, tapi pulang selalu terlambat—mempersiapkan laporan yang harus tersedia di meja manajer pagi hari berikutnya. Dan ini sudah berlangsung tiga bulan terakhir sejak manajer baru diangkat.

Jadwalnya kini bertambah padat. Ia harus menghadiri berbagai rapat—pendeknya overbooked sepanjang hari, sepanjang pekan. Bahkan sesampai di rumah pun, tiba-tiba sebuah pesan masih tetap menyapanya: besok rapat dengan Mr. X ditunda, tapi ada rapat dengan Mr. Y jam 9 pagi, tolong siapkan bahan. Wow?

Kawan ini bukan tidak mau bekerja keras, tapi baginya keseimbangan hidup sangat diperlukan. Ia mau bekerja keras tetapi dengan cara yang menikmati. Bekerja dengan menyenangkan, itulah yang ia inginkan. Mungkinkah keinginan ini tercapai?

Bekerja dengan rasa senang bukan saja mungkin, tapi kebutuhan. Bekerja dengan rasa bahagia barangkali tidak pernah masuk dalam kurikulum sekolah bisnis. Tapi para ahli manajemen semakin meyakini bahwa rasa senang dan kebahagiaan dalam bekerja merupakan leading indicator bagi kemampuan individu dalam mempertahankan passionperformance, maupun produktivitasnya pada jenjang yang tinggi dalam jangka panjang.

Seseorang mungkin saja meraih prestasi kerja tinggi tapi dalam jangka waktu singkat kinerjanya merosot. Ia kehilangan passion-nya, tak lagi antusias mengerjakan tugas-tugasnya. Ia mulai bertanya-tanya: “Siapa yang menikmati hasil kerja keras ini: atasan, perusahaan, atau saya?” Kesenangan dan kebahagiaan dalam bekerja mulai goyah.

Terdapat banyak cara yang ditempuh agar hal itu tidak terjadi, di antaranya:

Pertama, mengidentifikasi tujuan personal jangka panjang. Bila tujuan jangka panjang kita tidak seiring dengan tujuan perusahaan, mungkin saja kita menjadi tidak nyaman dalam bekerja. Kita mungkin bertanya: “Untuk apa saya bekerja seperti ini?”

Kedua, mengindentifikasi nilai-nilai kerja yang kita anut dan membandingkannya dengan nilai-nilai perusahaan. Banyak perusahaan yang tidak lagi menempatkan ‘bekerja’ sebagai segala-galanya. Sebagian perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang nyaman dan tidak menghilangkan hubungan personal di antara bawahan dan atasan.

Ketiga, carilah dukungan untuk membantu kita menyelesaikan tugas-tugas. Ini akan menciptakan kebersamaan bahwa kita tidak bekerja sendiri. Melibatkan lebih banyak orang mungkin bisa membantu meringankan beban.

Keempat, mendiskusikan dengan atasan tentang alternatif-alternatif dalam menuaikan pekerjaan, walaupun kita harus siap dengan risiko membikin merah telinga atasan. Atasan yang terbuka akan mau mendegarkan kebutuhan dan keinginan karyawan. Atasan yang adaptif terhadap perubahan akan menyadari bahwa karyawan membutuhkan lingkungan kerja yang lebih nyaman, kreatif, dan menyenangkan.

Kelima, selalu berpikir positif bahwa akan ada jalan untuk memperbaiki cara bekerja. Tersenyum dapat mengendorkan ketegangan syaraf.

Keenam, merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil. Bila sebuah pekerjaan yang menguras tenaga, waktu, emosi, dan pikiran berhasil dituntaskan, kita bisa merayakannya dengan bersyukur, makan enak, atau apa saja yang kita anggap positif.

Kesenangan dan kebahagiaan dalam bekerja semakin dicari orang. Bagi perusahaan, membuat karyawan senang dalam bekerja akan menguntungkan. Karyawan tidak akan mudah berpindah kerja dan niscaya akan lebih produktif tanpa rasa terpaksa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s