UMK vs KHL

Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) adalah sejumlah upah paling minimum yang menjadi acuan gaji karyawan satu periode bulan berjalan. Beberapa HR menafsirkan bahwa UMK adalah standar gaji pokok yang harus menjadi acuan penentuan Gaji Pokok karyawan yang harus dituangkan dalam suatu kesepakatan kerja secara tertulis.
Disisi lain, sesuai ketentuan UU bahwa Upah merupakan keseluhan imbalan yang harus dibayarkan perusahaan kepada karyawan atas pekerjaan yang telah dilakukan selama satu periode tertentu.
Kekeliruan yang paling banyak dilakukan HR adalah penetapan Gaji Pokok yang tidak didasarkan pada beberapa hal pokok seperti yang diatur dalam Kepmenakertrans No. 49 Tahun 2004 Pasal 3 bahwa “Dalam penyusunan struktur dan skala upah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, dilaksanakan melalui ;
  1. analisa jabatan;
  2. uraian jabatan;
  3. evaluasi jabatan;
Namun kenyataanya yang menjadi acuan penentuan gaji pokok karyawan adalah UMK bukan berdasarkan faktual pekerjaan dan kenaikan inflasi.
Dalam Kepmen yang sama Pasal 5 ayat (2) bahwa “Analisa jabatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan menghasilakan uraian jabatan dalam organisasi perusahaaan meliputi :
  1. identifikasi jabatan;
  2. ringkasan tugas;
  3. rincian tugas;
  4. spesifikasi jabatan termasuk didalamnya: pendidikan, pelatihan/kursus, pengalaman kerja, psikologi (bakat kerja, tempramen kerja dan minat kerja), masa kerja.
Setiap tahun sebelum penetapan UMK akan dilakukan Survey dari team yang di bentuk oleh Disnaker setempat diman team yang dibentuk berisi bebarapa anggota seperti BPS, APINDO, SPSI, DISNAKERTRANS. Survey yang dilakukan pun seharusnya dilakukan satu kali dalam satu bulan, tidak di akhir tahun ketika waktu penentuan UMK sudah dekat.
Dari survey yang dilakukan diakhir tahun selain tidak mencerminkan kondisi objektif kebutuhan hidup masyarakat juga menimbulkan pertanyaan yang begitu mendalam. Pertama mengenai substansi survey yang hanya melihat dari kebutuhan makan (Pangan) tidak melihat kebutuhan manusia secara utuh. Minimal yang harus di survey secara faktual adalah kebutuhan pangan, sandang, papan, dan rohani.
Tiap tahun hasil survey mengenai KHL dengan UMK begitu mencolok bahkan secara angka kadang berbeda sampai 50%-an UMK selalu lebih kecil dibanding KHL. Karyawan harus tetap mencekik leher untuk tetap mengirit pendapatan agar tetap dapat makan seadanya untuk mendapatkan gaji bulan berikutnya.
Gaji satu bulan hanya untuk cukup makan, terus untuk pendidikan, kesehatan, rumah, kendaraan, hiburan, dll bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s