Kronologi Ricuh Mahasiswa & FPI di Pontianak

Gara-gara pemasangan spanduk berisi penolakan keberadaan Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Barat, ricuh nyaris terjadi antara FPI dan mahasiswa. Namun, aparat kepolisian cekatan dalam mencegah kekisruhan.

Kekacuan bermula dari Asrama Mahasiswa Pangsuma, Pontianak. Spanduk anti FPI dipasang tepat di pintu masuk Asrama oleh orang tak dikenal, Rabu, 14 Maret 2012.

Spanduk Bubarkan FPI di Pontianak

Pemasangan spanduk berukuran 2,5 meter memancing kemarahan anggota FPI yang sedang melintas di depan bangunan itu pada pukul 11.00 WIB. Anggota FPI yang gusar itu lantas mencopot spanduk dan menghubungi teman-temannya.

Sekitar pukul 15.30 WIB muncul rombongan bersepeda motor melewati asrama. Rombongan yang terlalu besar memancing reaksi dari penghuni asrama. Akibatnya, terjadi kumpulan massa dan mengadakan reaksi terhadap rombongam sepeda motor. Oleh petugas, aksi berhasil diamankan sekitar pukul 17.30 WIB sehingga massa bisa dibubarkan.

Warga sekitar mengaku tidak tahu-menahu perihal pemasangan spanduk. Hingga pukul 18.00 WIB, kemarin malam, 16 Maret 2012, satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat serta aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi.

Hingga pukul 21.00 WIB, keadaan telah membaik. Namun kepolisian masih bersiaga. Sejumlah unit mobil Pengendalian Massa (Dalmas) juga ditempatkan di lokasi itu. Guna mengantisipasi keadaan yang mungkin memburuk, Jalan Prof Hamka hingga simpang tiga Sungai Jawi (Jalan Hasanuddin) ditutup. Pasukan Brimob bersenjata laras panjang membuat pagar betis. Kawat berduri dibentangkan.

Tak lama, pertemuan dilangsungkan untuk memediasi permasalahan itu. Wakil Kepala Polisi Daerah Kalimantan Barat, Komisaris Besar Safaruddin, mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi isu penyerangan Asrama Mahasiswa Pangsuma, Pontianak, terutama yang beredar lewat SMS.

“Kami mengimbau masyarakat Kalbar tidak mudah terprovokasi jika menerima pesan via SMS berkaitan dengan insiden di Asrama Mahasiswa Pangsuma Pontianak. Kabar itu tidak benar,“ kata Safaruddin, Rabu malam 14 Maret 2012.

Mediasi ini dihadiri Ketua DPW FPI Kalbar yang juga tokoh masyarakat Melayu Habib Muhammad Iskandar Al-Kadrie, Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar, Yakobus Kumis, Ketua DPC FPI Kota Pontianak, Habib Ishaq Ali, dan Wakil Walilota Pontianak, Paryadi, serta beberapa tokoh masyarakat.

Dialog dengan FPI

Dalam dialog itu, Habib Muhammad Iskandar mengaku menerima pesan pendek dari Ketua Umum DPP FPI Habib Rizieq Shihab. Dalam SMS itu, Habib Rizieq meminta semua pihak mengedepankan dialog demi mencari solusi.

Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar, Yakobus Kumis, menyatakan pihaknya sudah lama ingin berdialog dengan FPI. Keinginan itu baru tercapai ketika Habib Rizieq berkunjung ke Pontianak memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Saya sebenarnya sudah lama ingin menjalin komunikasi dengan FPI. Baru kemarin saya bisa berdialog langsung dengan Habib Rizieq. Maksudnya, saya tidak mau main di belakang karena dialog merupakan salah satu yang terbaik untuk menjalin komunikasi,” ucap Yakobus.

“Setelah proses mediasi ini, kami minta jangan ada gerakan apa pun. Lebih baik jika ada persoalan kita selesaikan dengan dialog,” ujarnya kemudian.

Menurutnya, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, tidak pernah melarang keberadaan FPI di wilayah ini. “Jangan mudah terprovokasi oleh SMS yang menyesatkan. Kita ini mau hidup berdampingan,” kata dia.

Hingga pukul 22.00 WITA pertemuan selesai dan sepakat damai antara kedua belah pihak.

sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s