Jangan Egois FPI

Ratusan warga suku Dayak menolak kedatangan tokoh Front Pembela Islam (FPI) dari Jakarta yang tiba di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (11/2).

Selain di bandara, aksi unjuk rasa warga Dayak yang menolak tokoh FPI juga terjadi Bundaran Besar Palangkaraya.

Mereka juga menolak kehadiran Ketua FPI Habib Rizieq yang rencanaya akan mengadakan tablig akbar di Palangkaraya, Minggu (12/2) malam. Selain mengadakan tablig akbar, rencananya juga akan dilakukan pembentukan dan pelantikan FPI di Palangkaraya- Kalimantan Tengah Kabupaten Kapuas dan Kotawaringin Timur.

Alasan warga Dayak menolak jika FPI beraktivitas di Kalteng, karena FPI dinilai identik dengan kekerasan sehingga tidak sesuai dengan budaya Dayak, Huma Betang.

Huma Betang bermakna perdamaian, kebersamaan dalam keragaman. Mereka juga menegaskan bahwa penolakan ini tidak ada kaitannya dengan agama.

Terkait dengan aksi penolakan FPI oleh warga Dayak ini, pihak MUI Kalimantan Tengah sebenarnya sudah membatalkan pembentukan FPI di Palangkaraya.

Pernyataan pembatalan ini telah disampaikan Panpel pembentukan FPI di hadapan Kepolisian Palangkaraya dan MUI Kalteng, Jumat (10/2) lalu. Dengan adanya pembatalan ini, kita berharap kepada pihak FPI agar mematuhi apa yang sudah diputuskan oleh instansi yang berwenang tersebut.

Kita juga patut bersyukur bahwasannya Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Syihab, juga telah menginstruksikan kepada Laskar Dayak Muslim FPI se-Kalimantan agar tidak terpancing terkait dengan aksi penolakan kehadiran rombongan FPI ke Palangkaraya. Instruksi dari petinggi FPI ini sangat penting guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di sisi lain, kita meminta FPI untuk menghormati kearifan lokal di setiap daerah. Hal ini agar keamanan dan kenyaman di daerah tersebut tetap terjaga dan terpelihara. Janganlah kita memaksakan kehendak hanya untuk kepentingan kelompok. Jika tetap dipaksakan akan berdampak pada stabilitas keamanan di daerah tersebut. Bahkan, bisa berdampak pada kerusuhan SARA.

Sebagai umat beragama sudah sepantasnya jika kita tetap mengedepankan dialog untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Dialog dinilai sebagai jalan terbaik bagi pihak-pihak yang sedang bersengketa.

Tidak perlu dengan cara kekerasan, karena dampaknya hanya akan merugikan semua pihak. Kita juga berharap kepada warga Dayak dan FPI agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum dan tetap menjaga perdamaian serta kerukunan sesama anak bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s