Hentikan Rasisme

Hubungan Indonesia dan Malaysia memang mengalami pasang surut sejak 1963. Kita tahu memang negara tersebut berdiri dengan pemberian kerajaan Inggris dan pahamnya waktu itu tidak sesuai dengan pemikiran Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.

Bangsa Indonesia menganggap bahwa Malaysia adalah Neokolonialisme sekutu yang ingin mengepung Indonesia, ketika di timur sudah ada Australia. Sudahlah, masa lalu akan tetap jadi masa lalu, akan menjadi sejarah. Tidak perlu terus dibahas. Kita bahas saat ini dimana Indonesia sudah banyak kehilangan identitasnya sebagai bangsa.

Dewasa ini keretakan hubungan itu dipicu oleh sikap “sebagian” orang Malaysia. Saya sebut sebagian karena sikap tersebut bukan cerminan dari sebagian besar rakyat Malaysia dan juga pemerintahnya. Mulai dari penyiksaan TKI, penganiayaan nelayan RI, pembalakan hutan yang ditengarai didanai cukong-cukong asal Malaysia dan pembantaian ratusan Orang Utan di sekitar perkebunan Kelapa Sawit yang Konon milik Orang Malaysia di Kalimantan Timur.

Unyil dan Upin Ipin

Namun sebagai bangsa yang beradab dan dewasa, alangkah baiknya kita bersikap rasional. Kita harus paham bahwa penduduk Malaysia itu cukup banyak, ada jutaan dan tidak semuanya bersikap buruk kepada kita. Kita harus mendudukkan masalah pada konteks yang sebenarnya, siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa yang tidak. Jangan kita anggap semua orang Malaysia itu jahat. Itu sangat tidak bijak dan tidak adil. Kutipan Al-Quran ini bisa jadi inspirasi buat kita.

“Dan jangan sampai karena kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil.” (Qs. Al-Maidah: 8)

Menjadi adil sangatlah disarankan dalam hal hubungan kita dengan Malaysia. Jika kita membenci seseorang atau sekelompok orang, hanya karena dia berkebangsaan Malaysia dan tidak berlaku adil kepada mereka, secara langsung kita telah melanggar Al-Quran itu sendiri.

Miris memang membaca banyak blog, media, status-status baik BBM, Facebook, Twitter, dan Media lainnya semua menghujat Malaysia. Seolah-olah mereka adalah pendosa terbesar di Negeri Indonesia ini.

Yang saya lihat secara langsung adalah ketika pertandingan penyisihan grup A antara Malaysia dan Indonesia, ketika lagu kebangsaan Malaysia dinyanyikan tidak ada suporter Indonesia yang berdiri, malah meniupkan terompet keras-keras sampai lagu itu tidak terdengar.

Sesungguhnya hal ini sangat memalukan. Oke, kita tahu bahwa banyak saudara sebangsa kita dianiaya oleh beberapa oknum Malaysia, tetapi ini tidaklah berbeda dengan yang kita lakukan saat menghina lagu kebangsaan dan atlet-atlet Malaysia yang bertanding di SEA Games. Jadi sesungguhnya mana yang lebih baik?

Tidak ada yang lebih baik. Bahkan citra kita sebagai bangsa yang ramah terkorbankan oleh sikap tidak simpatik seperti itu. Saya tanyakan sekali lagi kepada anda, bangsa kita bukan bangsa rasis kan? Saya yakin jawabnya pasti tidak.

Nah, berangkat dari hal itu kedepan seberapa geram pun kita terhadap oknum negera-negara serumpun kita, seberapa pun bencinya kita atas berita-berita, kabar-kabar yang tersiar tentang kejelekan Malaysia, mari kita sikapi dengan bijak, arif dan dengan pikiran jernih.

Jangan ada lagi kebencian, kita bukankah kita bangsa yang beradab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s