Atasan dan Bawahan

Bicara tentang atasan dan bawahan, hampir sama dengan kita berbicara tentang pakaian. Atasan atau bagian atas dari pakaian, antara lain kemeja, kaos, singlet, tank top, jaket, dan lain-lain. Sedangkan yang bawahan antara lain; celana panjang, celana pendek, rok, dan lain sebagainya.

Keduanya saling melengkapi. Jika tidak memakai atasan, bisa beberapa risiko mengancam, salah satunya masuk angin. Sama juga apabila tidak memakai bawahan. Bisa dibayangkan. Atau tidak usah dibayangkan. Kemana-mana tanpa bawahan. Risikonya juga banyak.

Atasan dan Bawahan

Kedua hal tersebut baik yang tidak memakai bawahan maupun yang tidak memakai atasan, secara etika dan estetika saya kira bersifat relatif. Jadi tentang kesopanan, keindahan, atau kesehatan, masing-masing daerah bisa berbeda-beda sudut pandangnya. Sepakat?

Demikian juga pada dunia kerja. Walaupun tidak bisa 100% diibaratkann dengan berpakaian. Namun sifat melengkapi antara atasan dan bawahan kurang lebih sama. Salah satu yang membedakan adalah ada atasan yang bisa mencopot bawahan. Yang jelas keduanya sama pentingnya. Ada atasan, karena ada bawahan. Ada bawahan karena ada atasan.

Saling menghargai antara keduanya menjadi penting dalam gerak aktivitas kerja. Dalam kerangka saling melengkapi, sebaiknyalah atasan menghargai bawahan. Demikian juga sebaliknya. Sehingga bisa menjadi satu kerjasama yang erat demi untuk tercapainya tujuan.

Hanya saja ada satu hal yang pokok dan tajam membedakan antara atasan dan bawahan. Yaitu kekuasaan, wewenang dan gaji tentunya. Seorang atasan bisa mempunyai kekuasaan untuk mengorganisir, mengatur, memimpin atas banyak bawahan. Kekuasaan tersebut selanjutnya bisa menjadi kewenangan untuk memasang atau bahkan melepas bawahan. Dikeluarkan, di-PHK. Sehingga karena itu bisa muncul istilah sewenang-wenang maupun penyalahgunaan wewenang.

Dua hal yang negatif terkait kekuasaan atasan. Hal negatif tersebut jika diterapkan pada dunia pekerja kerap memunculkan prinsip “bawahan yang butuh pekerjaan“. Apalagi didasari juga pada like and dislike atau “tidak suka dengan kebijaksanaan saya ya keluar saja, masih banyak yang antri cari kerja“. Nah, jika begitu, kekuasaan yang cenderung penyalahgunaan wewenang juga sewenang-wenang bisa terjadi.

Intinya adalah saling menghargai antara atasan dan bawahan. Sama-sama pentingnya. Penting untuk menjaga saling menghargai. Lantas menghargainya bagaimana? Silahkan dijawab sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s