Cara Singapura Mengatasi Kemacetan

Singapura – Kemacetan memang menjadi momok menakutkan dikota-kota besar di Indonesia, terutama pusat kota seperti Jakarta. Namun, bagaimana negara tetangga seperti Singapura mengatasinya?

Banyak cara yang diterapkan Singapura untuk mengatasi kemacetan mulai dari menyediakan alat transportasi umum yang nyaman dan aman hingga menerapkan pajak kendaraan yang tinggi.

Namun bagi yang sering ke Singapura, pasti banyak yang tidak menyadari kalau
Singapura pun menerapkan berbagai plat nomor kendaraan sesuai dengan kebutuhan para pengendara. Dengan diawali warna merah dan hitam, dengan fungsi yang berbeda tentunya.

Plat nomor kendaraan berwarna merah di Singapura disebut dengan Week and car, plat nomor ini bisa digunakan di hari Senin hingga Jumat hanya pada pukul 19.00 malam hingga 07.00 pagi. Tapi pada hari Sabtu dan Minggu, kendaraan berplat nomor merah ini bisa dipakai dalam 24 jam.

Tidak berhenti sampai disitu, pemerintah Singapura juga menerapkan pajak yang jauh lebih murah untuk kendaraan berplat berwarna merah, namun jika di hari biasa pemilik kendaraan berwarna merah ini keluar dan dipakai harian maka mereka harus bayar pajak lagi.

Sedangkan kendaraan berplat berwarna hitam bisa berjalan kapan pun tanpa melihat waktu dan hari apa. Namun konsekuensi yang para pengendara pun harus membayar pajak yang sangat mahal tentunya.

Para pemilik kendaraan pun harus memiliki sertifikat yang disebut dengan COE (Certificate Of Entitlement).Sertifikat ini bisa lebih mahal dari harga mobilnya,  tetapi harga ini pun tergantung dari harga kendaraan tersebut.

Para pemilik
kendaraan juga diwajibkan untuk memiliki asuransi kendaraan. Dan para
pemilik juga tidak izinkan untuk menggunakan boleh kaca film kecuali
untuk kaca bagian belakang mobil, dan ini merupakan peraturan yang wajib
untuk setiap pengendara.

Belum lagi aturan jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP) yang membuat para pengendara harus membayar retrebusi ketika memasuki suatu kawasan.

Selanjutnya untuk setiap para pengendara yang ingin memodifikasi kendaraan
kesayangan mereka, para pemilik kendaraan di Singapura harus mendaftarkan kendaraan mereka dan mengikuti LTA (land and transport authority).

Misalkan saja memodifikasi knalpot yang berlebihan, bila suaranya dapat mengganggu pengendara lain maka penggunaan knalpot ini pun tidak akan diizinkan.

Berbagai aturan tersebut sudah barang tentu akan membuat para penduduk negeri kecil itu berpikir selain membatasi waktu pemakaian, pajak yang tinggi pun jadi pertimbangan. Terlebih sistem transportasi Singapura terbilang sudah cukup baik sehingga masyarakatnya tidak lagi tergantung pada kendaraan pribadi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s