Sang Pemimpin Mulia dan Saudagar Terjujur

Muhammad merupakan sosok kepala negara yang layak ditiru seluruh pemimpin di dunia. Beliau tetap hidup seperti rakyat biasa dan sangat sederhana. Beliau selalu ada untuk rakyatnya sepanjang waktu. Tidak ada batas antara Rasulullah SAW dan rakyatnya. Muhammad memilih hidup sebagai orang bersahaja di tengah kemakmuran rakyatnya.

Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin termulia di muka bumi yang senantiasa bersikap rendah hati meski berkuasa. Penampilannya sangat jauh dari bayangan seorang raja dengan mahkota di kepala dan tongkat di tangan. Beliau memerintah dengan cara yang menyentuh hati rakyatnya, melalui kepribadian dan akhlak mulia yang beliau miliki.

Menurut Afzalur, tidak ada staf administrasi yang membantu pekerjaan Rasulullah. Tidak ada pula bangunan kantor yang monumental untuknya. Beliau menangani berbagai urusan negara dari masjid atau rumahnya. Tidak ada pula departemen-departemen yang memisahkan antara kelompok eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Kendati demikian, keadilan ditata sedemikian rupa sehingga seluruhnya diselenggarakan dengan jujur dan tidak berpihak. Keadilan hukum beliau tegakkan tanpa membedakan antara kawan, musuh, atau karib kerabat.

Seluruh tata administrasi diselenggarakan secara efisien serta tidak ditunda-tunda. Instruksi diberikan kepada para gubernur, petugas pengumpul zakat, administratur, pemimpin angkatan militer, para pemimpin agama (imam), para duta atau wakil urusan, dan para pekerja lainnya di lingkungan pemerintahannya.

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Rasulullah sama sekali tidak pernah membuat pembedaan apa pun antara penguasa dan rakyat. Walaupun memiliki kekuasaan dan otoritas, Muhammad ikut bekerja keras bersama rakyatnya sehingga orang yang tidak mengenalnya akan sulit mengidentifikasi beliau dari rakyat kebanyakan.

Beliau juga seorang Saudagar Terjujur. Kondisi sebagian besar tanah di wilayah Hijaz, khususnya sekitar Makkah, adalah kering, berpasir, berbatu-batu, dan langka air. Tidak ada hasil pertanian yang dapat dipetik di wilayah itu.

Oleh karena itu, mata pencaharian penduduk di kawasan itu pada khususnya adalah berdagang. Kegiatan berdagang ini tak terkecuali juga dilakukan oleh Rasulullah SAW.Ayahanda Nabi SAW, Abdullah, telah wafat ketika Nabi masih dalam kandungan. Sang ibu, Aminah, menyusul wafat enam tahun kemudian sehingga Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.

Setelah kematian sang kakek, selang dua tahun kemudian Muhammad pun tinggal bersama pamannya, Abu Thalib, yang berprofesi sebagai pedagang sebagaimana kebanyakan pemimpin Quraisy lainnya.

Dari sang pamanlah Muhammad berkenalan dengan dunia perdagangan untuk pertama kalinya. Afzalur Rahman dalam Ensiklopedi Muhammad Sebagai Pedagang memaparkan, Muhammad tumbuh dewasa di bawah asuhan Abu Thalib dan terus belajar mengenai bisnis perdagangan dari pamannya ini.

Seperti kebanyakan pemuda yang jujur dan punya harga diri, Nabi tidak suka berlama-lama menjadi tanggungan pamannya yang miskin. Maka, beliau bekerja sebagai penggembala untuk penduduk Makkah dengan imbalan yang kecil pada masa kanak-kanaknya.

Ketika beranjak dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Muhammad pun mulai berdagang di Kota Makkah.

Dalam menggeluti profesinya sebagai pedagang, Nabi tak sekadar mencari nafkah yang halal guna memenuhi biaya hidup, tetapi juga untuk membangun reputasinya agar orang-orang kaya berdatangan dan mempercayakan dana mereka kepadanya.

Berbekal pengalamannya dalam berdagang dan reputasinya yang terkenal sebagai pedagang yang terpercaya dan jujur, beliau memperoleh banyak kesempatan berdagang dengan modal orang lain, termasuk di antaranya modal dari seorang pengusaha kaya raya, Khadijah, yang kelak menjadi istrinya.

Pengusaha ideal. “Aku tidaklah diberi wahyu untuk menumpuk kekayaan atau untuk menjadi salah seorang dari pedagang,”sabda Nabi SAW. Rasulullah telah menjadi pedagang ideal yang sukses dan memberi petunjuk bagaimana menjadi pedagang ideal dan sukses. Beliau selalu memegang prinsip kejujuran dan keadilan dalam berhubungan dengan para pelanggan.

Muhammad SAW selalu mengikuti prinsip-prinsip perdagangan yang adil dalam setiap transaksi. Beliau juga selalu menasihati para sahabatnya untuk melakukan hal serupa.

Ketika berkuasa dan menjadi kepala negara Madinah, beliau telah mengikis habis transaksi-transaksi dagang dari segala macam praktik yang mengandung unsur-unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian, keraguan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan, dan pasar gelap.

Nabi Muhammad juga melakukan standardisasi timbangan dan ukuran, serta melarang orang-orang mempergunakan standar timbangan dan ukuran lain yang kurang dapat dijadikan pegangan. Sebagai contoh, ketika memulai usaha dagang dengan menjadi agen Khadijah, Nabi SAW mendapat laba yang melebihi dugaan. Tidak sepeser pun yang digelapkan dan tak sesen pun yang dihilangkannya.

Rasulullah bersabda,

Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan di antaranya dihasilkan dari berdagang.” Alquran juga memberikan motivasi bagi umat Islam untuk berdagang seperti yang diterangkan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 198:
Bukan suatu dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu“.

Sumber: Islam Digest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s