Pengakuan Seorang Teman

Suatu sore di sebuah kedai pizza, terjadilah sebuah obrolan tidak jelas antara saya dan seorang sahabat lama saya. Sahabat saya ini seorang lelaki sebut saja namanya Rifki (bukan nama sebenarnya).

Semenjak awal saya bersahabat dengannya, Rifki terkenal dengan religiusnya. Beberapa hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan sering kali saya dan teman-teman mengandalkannya.

Setelah hampir 5 tahun saya tak berjumpa Rifki, saya merasa ada yang berbeda dari sahabat saya satu ini. Sikapnya sekarang jauh lebih terbuka, berbicara blak-blakan bahkan soal seks, pokoknya dia beda banget dengan yang saya kenal sebelumnya.

Saya                      : kamu nikah ama sapa seh?? Kok aku ga dikabari

Rifki              : kamunya juga ngilang kemana, aku ama istriku pacaran 3 tahun trus baru  nikah.

Saya                   : what???kamu pacaran??? (mulut saya menganga, kaget bukan kepalang)

Rifki               : iya, pingin nyobain gimana pacaran (tertawa lepas)

Saya                   : Tapi istrimu benar-benar pilihan hati kan???

Rifki               : ehmmmm (berhenti sejenak), ah laki-laki selalu ingin mendapatkan wanita       yang sulit   ditaklukkannya.

Saya                   : maksudmu dia sulit ditaklukkan gitu??? (kening saya mengkerut)

Rifki              : why men want sex and women need love, kamu pernah baca kan???

Saya                  : so?? (saya masih belom nyambung :D)

Rifki             : aku menikahinya karena kami sudah terlanjur intim, tanpa cinta!!!!

Saya                  : hah???? Terlanjur intim trus Menikah tanpa cinta???hari gini????

Rifki            : ada wanita yang aku taksir, tapi tak pernah berhasil dapetin perhatiannya, akhirnya aku harus realistis dengan istriku sekarang, kasian juga secara udah “deket” banget (tersenyum nakal)

Saya                   : trus, sekarang uda cinta donk

Rifki              :setelah anak kami lahir, aku baru mulai mencoba mencintainya.

Saya                   : mencoba??berhasil?? tapi syukur kalo kamu setia pada istrimu.

Rifki             : setia itu impossible aie,…aku lebih prefer dengan responsibility. Namanya lelaki sifatnya selalu menabur benih, isi boleh donk kemana-mana, tapi botol harus pulang ke rumah (tertawa ngakak)

Saya                      : parah,..parah,…nakalmu terlambat ki!!!

Ah, laki-laki seperti Rifki ini,….ingin sekali saya menanyakan apakah setia itu begitu sulit??? Saya tahu saya tak berhak menilai seseorang buruk atau baik, pertanyaan sebuah kesetiaan juga akan sama berlakunya bagi wanita. Karena dimata Tuhan wanita pria  adalah equal.

Saya memandangi foto wanita yang dipanggilnya istri. Menurut saya wanita itu tergolong cantik. Tak habis fikir saya apa yang difikirkan Rifki, menikah tanpa cinta dan menganggap bahwa setia sesuatu hal yang tak mungkin. Terlepas jika Rifki bercanda sekalipun, bagi saya pernyataannya sama sekali tak bisa saya terima. Dan jika mungkin, ingin sekali saya jambak rambut Rifki saat itu juga.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s