Akibat Terlalu Agresif Di Kantor

Kata agresif digunakan untuk menunjukkan perilaku sebagai: mempertahankan hak sendiri dengan cara yang dapat mengorbankan hak orang lain; mengabaikan kebutuhan, keinginan, pendapat, perasaan atau keyakinan orang lain; mengekspresikan kebutuhan, keinginan dan pendapat sendiri dengan cara yang kurang pantas.

Perilaku agresif terjadi karena orang mempunyai keyakinan bahwa kebutuhan, keinginan, dan pendapat kita lebih penting daripada kebutuhan, keinginan, dan pendapat orang lain. Anda mempunyai sederet hak, orang lain tidak. Anda punya sesuatu yang bisa diberikan kepada pihak lain, orang lain tidak punya apa-apa yang bisa diberikan.

Dra Yuniari Susilowati, MM, staf Profesional Lembaga Manajemen PPM mengungkap bahwa agresif bisa berdampak pada berbagai hal. Akibat-akibat tersebut adalah:

* Akibat terhadap hasil kerja
Contoh berikut bisa Anda perhatikan: “Wah, tidak bisa, Pak. Jadwal saya sudah padat. Bapak cari orang lain saja deh!”

Ada dua akibat yang mungkin muncul terhadap reaksi agresif seperti itu. Yang pertama, atasan mengakhiri diskusi dengan mengalah tidak memberikan pekerjaan tersebut pada kita, dan itu berarti kebutuhannya tidak terpenuhi. Atau sebaliknya, ia marah atas jawaban kita dan balik menyerang: “Oh tidak bisa itu! Ini pekerjaanmu dan saya tidak mau tahu. Pokoknya akhir minggu ini sudah harus selesai!”

Reaksi atasan tersebut tentu saja sama artinya dengan memaksa kita mengerjakan pekerjaan tersebut, dan itu berarti kebutuhan kita tidak terpenuhi! Sebagai akibatnya kalaupun pekerjaan tersebut kemudian dilaksanakan, hasilnya tidak maksimal karena ada unsur keterpaksaan pada saat mengerjakannya.

* Akibat terhadap diri sendiri: Akibat jangka pendek
Setelah mencetuskan perasaan, pendapat atau keinginan dengan cara agresif, seseorang biasanya akan merasa lega dan puas. Perasaan lega dan puas akan mendorongnya untuk melakukan perilaku agresif di lain waktu. Apalagi jika secara kebetulan ada seseorang yang memuji perilaku agresif tersebut karena kagum terhadap keberanian menolak tugas, maka pujian tersebut dalam jangka pendek akan semakin mengukuhkan perilaku agresif kita.

* Akibat terhadap diri sendiri: Akibat jangka panjang
Selain puas dan lega, pelaku agresif bisa merasa malu (atas kekasarannya) atau merasa bersalah. Untuk menutupi rasa malu atau bersalah tersebut, untuk sementara pelaku agresif mungkin meminta maaf dan berbaik-baik pada orang yang menerima perilaku agresif tadi.

Tapi hal ini hanya berlangsung selama beberapa saat saja. Yang lebih sering terjadi adalah: seseorang yang berperilaku agresif mulai menyalahkan orang lain, misalnya dalam contoh di atas, pelaku agresif malah menggerutu dan menuding atasan yang menyebabkannya terpaksa bereaksi agresif. “Habis dia keterlaluan sih. Sudah tahu kita sedang sibuk.”

Setiap selesai melakukan perilaku agresif kita akan tegang dan siap melancarkan serangan agresif berikutnya setiap kali ada seseorang yang (sengaja atau tidak) berinteraksi dengan kita. Hal ini menimbulkan rasa lelah. Lama kelamaan kita mulai menyalahkan orang lain di luar yang terlibat dalam proses agresivitas kita, menyalahkan sistem, menyalahkan lingkungan dan pada akhirnya menyalahkan segala sesuatu.

Dalam jangka panjang, kita bisa diisolasikan oleh teman karena kita penuh dengan rasa curiga, kemungkinan kehilangan prospek berkarir yang baik di perusahaan karena tidak disukai banyak orang dan bukan tidak mungkin terkena darah tinggi karena terus-menerus tegang!

* Akibat terhadap orang lain
Untuk sesaat orang mungkin mengagumi reaksi agresif yang Anda lontarkan. Anda dianggap berani dan terbuka menyatakan hak. Pujian datang dari banyak orang (termasuk dari orang yang menerima perilaku agresif itu sendiri). Tetapi penerima perilaku agresif lebih sering merasa marah, terluka, tersinggung atau terhina, dan ini menyebabkan mereka ingin membalas dendam: secara terbuka maupun diam-diam.

Balas dendam secara terbuka diwujudkan dengan membalas bereaksi agresif. Sehingga agresivitas melahirkan agresivitas. Sedangkan balas dendam diam-diam diwujudkan dalam bentuk: orang mulai menyembunyikan informasi penting, menceritakan kejelekan-kejelekan kita di belakang punggung, bicara ya di depan kita tetapi melakukan hal lain di belakang, atau menghasut orang-orang agar tidak mendukung atau mengerjakan ide kita. Pada dasarnya kita juga yang dirugikan.

* Akibat terhadap organisasi
Jika kebiasaan agresif berkembang dalam organisasi maka iklim dalam organisasi tersebut menjadi tidak sehat. Sebagai contoh, seorang Junior Manager yang mendapatkan perilaku agresif terus menerus dari atasannya mungkin akan membalas berperilaku agresif terhadap bawahannya.

Jika kebiasaan ini diteruskan maka bisa dibayangkan iklim dalam organisasi tersebut akan menjadi sangat tidak menyenangkan untuk bekerja. Hal ini akan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan secara keseluruhan.

Nah, Anda sudah kenal akibatnya, makanya pikir dulu sebelum bertindak. Semoga bermanfaat bagi Anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s