Menghadapi Si Pencela

Padahal orang yang doyan mencela orang lain sesungguhnya adalah orang-orang yang nggak pede terhadap kondisinya sendiri. Sehingga kegemaran mencela ini bisa diindikasikan refleksi dari rasa irinya terhadap kelebihan orang lain. Atau bisa jadi, mereka yang suka melontarkan celaan adalah orang yang tidak pernah puas dengan kehidupannya. Ini diakibatkan karena ia sering mengalami hal yang membuatnya kecewa. Sehingga seolah-olah orang lain juga harus ikut menanggung kekecewaannya dengan bersedia dicela atau mendengar celaannya.

Kiat menghadapi teman kantor atau teman di lingkungan manapun yang hobi mencela, sederhana saja. Caranya yaitu jangan pernah terpancing emosi mendengar celaannya. Setiap kali ia membicarakan hal negatif tentang Anda atau orang lain nggak perlu langsung ditanggapi secara serius. Diamkan saja dulu. Selama diam, Anda bisa berpikir apakah ucapannya itu perlu ditanggapi atau tidak.

Jika pada kenyataannya, ia mencela siapa saja tanpa pandang bulu seperti mencela rekan kerja, mencela bos, atau bahkan mencela sahabatnya, berarti memang ada sesuatu yang salah pada dirinya. Sekarang coba saja Anda pikirkan apakah benar semua orang seburuk yang dia kira? Tentu saja tidak bukan?

Jeleknya, seperti kebanyakan sifat pencela ulung, sekalipun gemar mencela, ia ogah dicela atau dikritik. Untuk menyiasatinya ia berusaha tampil sesempurna mungkin, terlebih dalam urusan pekerjaan. Ia berusaha agar orang lain tak bisa menemukan ‘kutu di balik rambutnya’. Karena itu, karakter jenis ini, bisa Anda temui di depan komputer, merevisi laporan untuk yang kesekian kalinya.

Kondisi ini akan lebih parah jika si pencela adalah seorang bos! Nyaris selalu saja ada kesalahan yang ditemui pada anak buahnya. Ketelitian dan kejeliannya yang kelewat batas membuat pekerjaan anak buahnya tak kunjung selesai. Tak heran jika anak buahnya tak betah bekerja sama dengannya. Karena rasanya kesalahan ada dimana-mana. Tak jarang, kondisi ini membuat mereka putus asa.

Tapi seberapapun kesalnya Anda pada si pencela, baik itu bos atau rekan Anda, jangan pernah berpikir untuk membencinya. Sebaliknya, orang-orang seperti itu harus Anda kasihani. Karena sesungguhnya mereka yang suka mencela adalah orang-orang yang butuh perhatian lebih dari orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Untuk memberi ‘pelajaran’ padanya, saat ia tengah asyik mencela orang lain, balikkanlah bahwa apa yang dicela itu sesungguhnya tidak lebih buruk darinya. Tentu saja, ucapkan dengan nada dan ekspresi sebiasa mungkin. Sehingga Anda tak terkesan tengah ‘menyerangnya’. Lain kali, jika ia berbuat kesalahan jangan ragu mengkritiknya. Paling tidak, ia perlu disadarkan bahwa bukan orang lain saja yang bisa berbuat salah, tapi dirinya pun nggak luput dari salah dan khilaf. Lagipula tak ada satu orangpun di dunia ini yang sempurna bukan?

Kalau perlu, pelan-pelan Anda nasehati ‘si pencela’ ini. Lakukan pendekatan secara simpatik untuk menyadarkan dirinya dari kekeliruan. Katakan bahwa ucapannya itu bukan saja akan menyinggung orang lain tetapi akan menyebabkan ia dijauhi dan tidak punya teman satupun di dunia ini. Dan tekankan bahwa hal ini sangat merugikan dirinya sendiri. Karena apa enaknya sih hidup tanpa seorang teman?

Kalau Anda bicara secara bijak tanpa nada menyudutkan, ia akan menyadari kebodohannya selama ini. Dan ia akan sadar bahwa untuk mendapatkan perhatian dari lingkungannya, bukan dengan cara menjelekkan orang lain. Dan sekedar Anda tahu, hanya orang-orang yang peduli pada sesamanya lah yang bersedia memperhatikan ‘si pencela’ ini di saat yang lain sama sekali sudah tidak mau lagi peduli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s