Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena
apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama bertahun-tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu hari, sang kakak meminta seseorang untuk membangun sebuah tembok kayu di depan sungai yang membentang diantara rumah mereka. Agar ia tidak lagi bisa melihat rumah adiknya di seberang sungai. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan yang melintasi sungai yang menghubungkan rumahnya dengan rumah adiknya. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan.

Terkadang kita membutuhkan orang ketiga untuk memberi maaf pada seseorang. Tapi, seandainya kita mau membuatnya sendiri, tentu jembatan maaf yang kita buat sendiri, akan lebih indah.(dni/cnj).

Advertisements