Menghargai Keragaman

Keragaman

Belakangan ini negeri kita sering sekali disibukkan dengan berbagai aksi yang baik secara lansung maupun tidak langsung mengandung upaya pemaksaan suatu nilai dan yang dianut oleh kelompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lainnya. Jika ada seniman yang membuat karya seni berbeda dari nilai dan norma masyarakat tersebut maka seniman itu disebut melanggar hukum/ norma & nilai, padahal jika diperhatikan itu tidak ada apa-apanya.

Kontroversi seperti ini sudah lazim terjadi di negeri tercinta kita, Indonesia. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa kita sebagai warna Negara Indonesia belum mempunyai pandangan yang sama tentang keberagaman nilai dan norma yang dimiliki oleh bangsa ini. Memang benar setiap orang memiliki nilai dan norma yang dianut dan diyakininya dalam hidup. Nilai dan norma ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan formal dan informal yang pernah didapatnya dalam hidup. Nilai dan norma ini menyangkut pola piker, perasaan, reaksi terhadap suatu rangsangan, dan tindakan yang dilakuukannya.

Ide, gagasan, pikiran berupa nilai dan norma hidup dapat terlihat dalam tutur kata, tulisan, gerak, karya seni, ritual, adat dan budaya. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki norma dan nilai yang dipengaruhi oleh adat-istiadat dan budaya yang dipengaruhi oleh agama atau keyakinan yang dianutnya. Oleh karena itu nilai-nilai, norma-norma dan berbagai keragaman yang ada tidak  mungkin dapat dilebur menjadi satu.

Kita tentu sadar untuk melahirkan suatu generasi penerus dan bangsa yang besar perlu dibuat rambu-rambu agar tidak kebablasan dan terarah. Kita juga tentu sadar arus globalisasi bisamenghilangkan nilai dan tatanan yang ada sekarang, oleh karena itu perlu benteng yang bisa diterima oleh semua komponen/ unsur bangsa  bukan hanya sekelompok warga bangsa.

Sebagai warga Negara Indonesia kita sepatutnya memperhatikan nilai dan norma dalam suku bangsa yang beragam ini. Tidak mungkin semua nilai dianggap satu apalagi dilebur menjadi satu. Atau memaksakan nilai dan norma yang kita yakini kepada orang lain. Semisal, banyak orang menganggap orang yang telanjang dianggap melanggar norma. Benarkah demikian??? tentu saja tidak, kita harus melihat situasi, keadaan, waktu dan tempat.

Dalam memandang apakah seseorang melanggar norma/ nilai sangat tergantung dari cara pandang orang yang memandangnyadan juga dari orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, jika kita ingin memahami orang lain, menghargai orang lain, belajar dari orang lain, sebaiknya kita pun menggunakan nilai dan norma yang dianut dan diyakini orang tersebut. Jika kita menggunakan ukuran nilai dan norma yang kita yakini  dan anut, yang akan terjadi selanjutnya adalah pemahaman yang bias. Dan inilah yang banyak menyulut lahirnya kesalahpahaman dan merangsang perpecahan bangsa.

Bukankah Negara Indonesia menjamin dan memberikan kemerdekaan pada suku-suku, agama, dan nilai-nilai yang baik untuk tumbuh dan berkembang. Setiap suku bangsa di Indonesia harus bebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Semoga bangsa ini akan terus menjadi bangsa yang besar dengan keberagamannya yang ada. Semoga!!!(dni/cnj).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s