Nikmat Mana Yang Kita Dustakan?

Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, namun sayangnya manusia sering berprasangka buruk pada Tuhan-nya. Sering lupa atau bahkan melupakan kata “Alhamdulillah”, ketika mendapatkan nikmat.

Jika berdo’a kemudian belum terkabul, ia anggap Tuhan tidak mau mengabulkan do’anya.

Ketika do’anya terkabul namun masih ada kekurangan, ia menganggap Tuhan nggak adil.

Namun jikadiberi sesuatu yang lebih, ia pun malah jatuh pada kesombongan.

My Pray

Jika diberi berbeda dari apa yang diharapkannya, ia menganggap Tuhan nggak tahu apa yang diharapkannya.

Kalau boleh menghitung, mari kita coba menghitung-hitung nikmat Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.

Kita pergi ke rumah sakit, maka kita akan merasakan nikmatnya sehat.

Jika kita pergi ke rumah sakit jiwa, maka kita akan merasakan nikmatnya akal sehat.

Jika kita pergi ke penjara maka kita akan merasakan nikmatnya kebebasan.

Jika kita pergi ke tempat pembuangan sampah, kita akan tahu betapa nikmatnya menghirup udara segar.

Jika kita pergi ke pemukiman kumuh maka kita akan merasakan nikmatnya rumah kita yang sangat sederhana.

Jika kita pergi ke pusat rehabilitasi narkoba maka kita akan merasakan nikmatnya terselamatkan dari racun dunia.

Jika kita pergi ke pinggiran/ perempatan jalanan kota dimana tangan-tangan di bawah menengadah maka kita akan merasakan nikmatnya memiliki harta.

Jika kita pergi ke panti-panti orang cacat maka kita akan merasakan nikmatnya memiliki anggota tubuh yang lengkap dan sehat.

Lalu, nikmat manakah yang akan kita dustakan? nikmat hidup, nikmat Iman, nikmat Islam?

Manusia adalah mahluk egois, ketika semua permintaannya terlaksana. Banyak manusia yang melupakan sang pemberi keputusan.

Manusia hanya berkata “ini semua adalah hasil kerja keras saya”. Manusia seperti inilah yang disebut ‘kufur nikmat’, mengingkari kenikmatan yang telah direguknya selama ia hidup.

Semoga kita semua tidak termasuk kedalam orang-orang sedemikian, dan semoga kita bisa menjadi manusia yang pandai mensyukuri nikmat-Nya.(dni/cnj).

7 thoughts on “Nikmat Mana Yang Kita Dustakan?

  1. Sidik says:

    Subhanallah,paparan yang menyentuh…salam kenal ya Akhi…semoga rahmat dan hidyah-Nya selalu meliputi hari2 akhi.Teruskan mnulis tulisan yang inspiratif,dan memotivasi.

  2. Aki Urang Lembur says:

    Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.
    QS. ar-Rahman (55) : 41

    Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    QS. ar-Rahman (55) : 42

  3. Maren Kitatau says:

    Manusia memang nggak ada puasnya. Dikasih jantung minta hati. Dikasih hati minta kikil, dst.

    Kita harus belajar banyak dari sejarah diri. Hanya mereka yg punya peng-alam-an luar biasa yg dpt menjadikannya luarbiasa juga. Mereka yg selalu menghindari pengalaman seperti itu akan menjadi biasa-biasa saja lah, selalu merasa hidup ini terhimpit langit dan bumi.

    Salam Damai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s