Fatwa Itu….

Beberapa hari yang lalu, kembali fatwa haram dikeluarkan. Kali ini yang diharamkan adalah rebounding, foto pre-wedding, dan pekerjaan sebagai tukang ojek bagi wanita. Hmmmmm, saya secara pribadi berpendapat fatwa-fatwa yang keluar belakangan ini sangat meresahkan dan menimbulkan banyak perdebatan. Baik fatwa haram dari MUI maupun dari beberapa Ormas lainnya.

Fatwa-fatwa ini dikeluarkan dari hasil bahtsul masa’il atau pembahasan masalah yang digelar Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Rebonding

Fatwaharam rebounding ini ditujukan terutama bagi wanita berstatus single atau belum berkeluarga. FMP3 berpendapat, berdasarkan syariat Islam, seluruh aurat wanita seharusnya tertutup. Wanita diharuskan mengenakan jilbab. Dengan demikian, rebounding bertentangan dengan aturan ini karena umumnya dilakukan demi penampilan menarik yang sengaja dipertontonkan. Sementara gaya rambut rasta, punk dan pengecatan dengan menggunakan warna merah dan kuning juga dinyatakan haram.

Sementara, untuk pembuatan foto pre-wedding diharamkan juga untuk 2 hal, yaitu bagi pasangan mempelai dan fotografer yang melakukannya. Untuk mempelai diharamkan apabila dalam pembuatan foto dilakukan dengan dibarengi adanya ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat). Sementara pekerjaan fotografer pre-wedding juga diharamkan karena dianggap menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan.

Fatwa haram lainnya adalah haram untuk pekerjaan ojek untuk seorang wanita. Hal ini dilatarbelakangi pada pemikiran sulitnya menghindar dari kemungkinan terjadinya perbuatan maksiat. Dengan alasan karena sulitnya menghindar dari hal-hal yang diharamkan seperti tasyabbuh dan hal-hal yang menimbulkan fitnah.Masih pada bahasan ojek, kegiatan tersebut juga diharamkan bagi wanita untuk menggunakannya bepergian ke tempat ziarah, pasar dan majelis ta’lim.

Rumusan ini dibuat dengan catatan apabila penggunaan jasa ojek oleh wanita dibarengi dengan ha-hal yang bisa mengakibatkan kemaksiatan, diantaranya bersentuhan kulit, menampakkan aurat dan berduaan dengan pengendara ojek di tempat yang sangat sepi.

Fatwa-fatwa haram diatas baik langsung atau pun secara langsung akan menimbulkan konflik baik secara individu maupun kelompok bagi umat Muslim. Ada baiknya para alim ulama dalam menyimpulkan segala sesuatu memikirkan dampak yang bisa timbul. Jangan sampai seperti sekarang, sedikit-sedikit haram, haram lagi dan haram lagi.

Hukum haram-halal bukanlah sebuah permainan, yang dengan gampangnya dikeluarkan. Saya sebagai seorang muslim, merasa fatwa-fatwa tersebut terlalu berlebihan. Alangkah baiknya para ulama saat ini membuat formulasi untuk mencegah terjadinya penistaan agama ketimbang mengeluarkan fatwa-fatwa haram tersebut.

Selain penistaan agama, yang harusnya menjadi prioritas para ulama adalah bagaimana menguatkan akidah umat. Supaya mereka tidak terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan nista, saya meyakini jika akidah seseorang sudah kuat, ulama tidak perlu lagi mengeluarkan fatwa-fatwa haram tersebut. (dni/cnj).

5 thoughts on “Fatwa Itu….

  1. Sumawan says:

    Gimana yach???kayaknya MUI dan Ormas2 tu kurang kerjaan,ya ujung2nya nyari kerjaan dengan membuat Fatwa2 yang mendua/ambigu.kalo bleh beri saran,alangkah baiknya mereka2 membuat langkah2 pasti utk mngntaskan kemiskinan dan memberntas kebodohan.jangan sprt skrg dikit2 haram!ini membuat agama lain mencemooh pak kyai.

  2. Kuraisin says:

    Yang pasti fatwa2 tersebut banyak mnyebabkan konflik!hentikan semua itu,kita semua perlu ketenangan…

  3. miphz says:

    Makan ayam goreng halal atau haram? Tentulah belum tentu, karena jika ayam curian, ya haram. Kalau seseorang mentraktir makan ayam goreng sementara teman yang ditraktirnya hanya dikasih makan tempe, lain lagi hukumnya. Makan ayam goreng secara demonstratif di depan orang berpuasa malah bisa haram, bisa makruh, bisa sunnah. Haram karena menghina orang beribadah. Makruh karena bikin ngiri orang berpuasa. Sunnah karena ia berjasa menguji kesabaran orang berpuasa.Mari kita lebih membumi di dunia yang sementara ini.😉

    1. DENI SURYANA says:

      Betul, setuju…lagian kalo menurut saya halal haram itu sudah jelas dan merupakan hak prerogatif Tuhan. tidak perlu ditambah2in lagi oleh manusia yang menamakan diri ulama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s