Saya mengenal kata pengamat dan kritikus sejak saya duduk dibangku sekolah dasar, yang saat itu saya tahu pengamat dan kritikus adalah orang yang kerjanya ‘nyablak’ dan berkomentar. Dan hingga saat ini hal tersebut ternyata terbukti tidaklah salah. Kritikus dan pengamat dari waktu ke waktu terus bertambah, dan terus bertambah.

Saya akui peran pengamat dan kritikus atau komentator ‘cukup’ penting untuk mengkritisi dan memberi masukan serta pencerahan bagi siapa saja yang mendengarkan. Satu hal yang perlu diperhatikan, kebanyakan kritikus, komentator ataupun pengamat di negeri ini dalam memandang sebuah permasalahan atau apa saja sering bersifat subjektif, berdasarkan perasaan like dan dislike. Inilah yang berbahaya, karena biasanya opini atau pemaparan dari si komentator, kritikus, atau pengamat bisa menggiring opini publik.

Harus Proporsional

Saya akan merasa senang jika ada orang yang memberi saran, kritik atau komentar kepada saya. Baik untuk tulisan saya mau pun untuk apa saja tentang saya, selama kritik, saran, atau komentar tersebut merupakan kritik, saran atau komentar yang membangun. Karena sesungguhnya kritik, saran dan komentar yang datang pada diri kita akan menempa menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam beberapa bulan ini, kebetulan saya mengelola beberapa buah blog. Salah satu yang saya kelola adalah blog tentang progress pembangunan Desa Mandalamekar. Saya sering geli ketika ada orang yang memberi kritik atau masukan, atau saran, atau komentar yang seperti “monyet ngagugulung kalapa”, tidak tahu permasalahan, tapi mengomentari dengan kata-kata yang “pedas dan pahit” dan keluar dari berita/ tulisan yang saya posting (ga nyambung).

Inilah disebut dengan kritikus tidak proporsional, inilah yang disebut dengan komentator yang ‘sok tahu’ memberi kritik atas apa yang mereka tidak kuasai, memberi saran kepada permasalahan yang tidak pahami. Hasilnya apa??? tentu saja nol besar.

Dalam tulisan sebelumnya saya telah menulis tentang etika mengkritik, salah satu poin yang saya tulis adalah tentang memahami permasalahan sebelum memberi saran atau kritik. Tujuannya apa??? supaya nyambung dan tidak keluar dari konteks sehingga kita dapat mengambil esensi dari komentar, saran atau kritik tersebut. Itulah gambaran negeri kita, terlalu banyak komentator, terlalu banyak kritikus yang kerjanya terus-terusan mengkritik.

Celakanya banyak kritikus yang belum memahami,  dan belum mengerti atas permasalahan yang akan dikomentari atau dikritisinya sehingga ya ‘ngawur’.

Saya, secara pribadi berpendapat dari pada jadi seorang kitikus atau komentator lebih baik kita jadi praktisi dan bekerja nyata. Jangan hanya ‘Omdo’, banyak bacot, banyak cingcong. Jika anda memang punya kemampuan, buktikan dengan kerja nyata, jika anda tidak setuju dengan sebuah program yang dibuat orang lain, buatlah program tandingan sendiri. Kita sama-sama jalankan program kita, tidak perlu terlalu ambil pusing dengan urusan dan program orang.(dni/cnj).

Advertisements