“Negeri Pengemis”

Beberapa hari ini pikiran dan perhatian saya banyak tertarik pada sebuah masalah sosial di negeri kita yang katanya negeri kaya raya, sumber daya alam melimpah dan berbagai juluka lainnya. Saya rasanya sudah tidak lagi tertarik lagi dengan masalah-masalah politik, atau yang paling hot adalah masalah kasus bom ‘Mega Kuningan’.

Saya rasa masalah-masalah ini sudah banyak sekali yang menangani dan mengomentarinya baik intelejen, kepolisian, TNI, pengamat, wartawan bahkan masyarakat umum sekali pun sudah banyak yang berkomentar dan membuat analisa dan pandangan-pandangan pribadinya.

“Pengemis”

Satu hal yang sering kali terlupakan adalah masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang sangat jauh antara si miskin dan si kaya. Ini tentu menjadi masalah besar bagi bangsa kita. Masalah kemiskinan dan kesenjangan sering disinggung hanya pada saat kampanye-kampanye para calon penguasa. Masalah kemiskinan dan kawan-kawannya sering dijadikan amunisi yang cukup efektif untuk menarik hati para calon pemilih. Namun pada kenyataan setelah beliau-beliau terpilih ujung-ujungnya “lupa-lupa ingat” juga atas apa yang sudah mereka ucapkan.

Angka kemiskinan kita pada dasarnya terus meningkat meski menurut angka statistik BPS mengalami penurunan, benarkah menurun? Jawabannya akan relatif, tergantung siapa yang menjawab. Kalo pemerintah yang menjawab sudah tentu jawabannya menurun. Namun jika saya yang menjawab jawabannya terus meningkat, meski saya tidak memiliki angka-angka statistik namun kita dapat melihat dari hari ke hari angka kemiskinan terus meningkat.

Dapat kita lihat dari makin banyaknya pengangguran, sarjana yang belum dapat pekerjaan yang layak (sesuai dengan pendidikan yang sudah dicapainya), jumlah ‘gepeng’ yang terus bertambah, jumlah anak jalanan yang dari waktu ke waktu terus meningkat, pengamen yang terus bermunculan, Karyawan yang kena PHK terus bertambah, apa ini bukan salah satu bukti bahwa angka kemiskinan di negeri kita terus menanjak?

Kita tidak bisa tutup mata dan tutup telinga begitu saja atas realita ini, kita dapat dengan mudah menyaksikan bukti kemiskinan di Negeri kita tercinta ini. Tidak perlu pergi jauh-jauh di lingkungan kita, di sekitar kita bukti-buktinya sangat jelas dan nyata. Bagi mereka yang menyatakan angka kemiskinan menurun tajam mungkin mereka tidak pernah melihat dan menyaksikan secara sungguh-sungguh realita ini.

Satu hal yang sungguh membuat saya miris menyaksikan realita kemiskinan ini adalah semakin banyaknya pengemis yang bertebaran di hampir seluruh Indonesia, terutama di daerah dimana saya tinggal yaitu Jawa Barat. Sungguh menyedihkan dan sangat memalukan. Kita dapat dengan mudah menemui para pengemis ini di sudut-sudut kota bahkan sudah masuk kepedesaan. Sungguh sebagai anak Bangsa saya merasa sangat sedih melihat realita seperti ini.

Ada cerita bahwa pada zaman dulu sekitar tahun 90-an orang cacat/ tunadaksa malu untuk keluar dari rumah karena kekurangannya. Maka keadaannya berbalik saat ini, orang cacat atau tunadaksa malah banyak yang ‘berbangga’ dan memanfaatkannya sebagai komoditas untuk di expose untuk mendapat rasa iba/ dikasihani orang lain. Mereka turun ke jalan dan ‘mangkal’ untuk ‘menjajakan’ kekurangan mereka. Memang benar lapangan kerja untuk mereka sangat terbatas bahkan aksesnya hampir tertutup tapi alangkah bijaksananya jika mereka tidak ‘menjajakan’ kekurangan mereka. Akan jauh lebih mulya jika mereka mau berusaha dengan berwiraswasta atau ‘motekar’. Dan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menjembatani dan memberi fasilitas/ memfasilitasi mereka dalam merintis usaha. Baik dari segi permodalan maupun sarana dan prasarana.

Ada banyak cara yang ditempuh oleh para pengemis untuk ‘menarik hati’ para dermawan ada yang mengemis dengan menggendong anaknya yang entah dengan sengaja atau karena ketidak mampuannya benar-benar tidak terurus. Ada yang pura-pura cacat dan berbagai cara lainnya yang dilakukan untuk menarik simpati. Bahkan yang membuat saya sangat malu adalah permintaan sumbangan untuk pembangunan Mesjid dengan meminta-meminta dijalanan. Sungguh betapapun berderma dijalan Allah SWT dengan cara memberi sedekah/ amal jariyah/ berinfaq/ menyumbang pembangunan Mesjid amatlah mulia namun jika kita meminta sumbangan/ infaq/ sedekah dengan cara meminta-minta dijalanan terlebih untuk pembangunan sebuah Mesjid bagi saya ini sangat memalukan.

Sebagai seorang Muslim saya setuju dengan adanya pembangunan Mesjid, namun alangkah baiknya jika sebelumnya direncanakan secara matang dan terukur baik dari segi pendanaan dan pelaksanaannya. Terutama dari segi pendanaan, ini penting! Akan jauh lebih baik jika kita membangun mesjid sesuai dengan kemapuan kita (masyarakat sekitar) sehingga kecil kemungkinan akan turun kejalanan untuk meminta sumbangan. Bukankah meminta-meminta tidak dibenarkan dan tidak terpuji?.

Saat bulan Ramadlan tiba seperti sekarang jumlah pengemis di kota-kota besar di Indonesia akan meningkat drastis, ini disebabkan karena adanya anggapan bahwa pada bulan Ramadlan orang-orang Muslim yang dermawan akan berlomba-lomba untuk bersedekah untuk menambah-nambah/ berburu pahala di bulan puasa. Bahkan ada satu Kampung di daerah Jawa Timur yang hampir seluruh warganya pergi ke kota-kota besar untuk menjadi pengemis. Dan kembali pulang saat lebaran menjelang. Hal ini yang kemudian mendorong MUI setempat memfatwakan ‘haram’ mengemis.

Fatwa ‘haram’ ini didasarkan kepada bahwa mengemis akan menurunkan harga diri, merupakan pekerjaan bermalas-malasan, dan merugikan orang lain. Sasarannya adalah para pengemis tertentu seperti : pengemis musiman, pengemis dengan proposal ilegal, dan pengemis yang berpura-pura cacat.

Menurut pendapat saya pemberantasan pengemis, gepeng, pengamen, anak jalanan dan penyakit sosial lainnya tidak dapat dilakukan hanya dengan mengeluarkan PERDA atau fatwa-fatwa MUI. Karena biasanya peraturan seperti ini hanya ‘anget-anget tai ayam’ yang hanya akan dipatuhi diawal-awal penerbitannya saja, selanjutnya hanya dianggap sebagai angin lalu. Yang harus dilakukan adalah mencari dan menyelesaikan masalah penyebab utama atau akarnya yaitu kemiskinan dan sifat malas bangsa ini.

Kita semua tentu setuju bahwa kemiskinan dan kemalasan merupakan inti atau akar dari berbagai permasalahan tersebut. dan yang paling berperan besar dari kedua permasalahan tersebut adalah kemalasan/ sifat malas masyarakat kita yang sepertinya sudah mengakar. Orang yang miskin semiskin apapun kalau dia tidak malas saya yakin dia tidak akan pernah turun ke jalanan untuk mengemis dan meminta-minta, dia akan berbuat sekuat tenaganya dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Banyak orang yang saat ini kaya dulunya adalah miskin, namun karena dia mau berusaha dengan giat dan tekun akhirnya dia berhasil merubah hidupnya menjadi lebih baik.

Bukankah ada firman Allah SWT yang menyatakan “Sesungguhnya Aku (Allah SWT) tidak akan merubah nasib/ keadaan suatu kaum hingga kaum tersebut merubah nasib/ keadaannya sendiri”. Bukankah tangan di atas jauh lebih baik dari tangan yang tengadah di bawah???. Ayat dan peribahasa ini jelas mengajarkan kita untuk terus giat berusaha dan tidak bermalas-malasan.(dni/cnj).

2 thoughts on ““Negeri Pengemis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s