“Menjual Diri”

Semua manusia pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupannya. Sebagian orang mnyebutnya sebagai target hidup. Tujuan setiap orang tentu berbeda-beda tergantung dari individu-individunya. Semua orang yang memiliki tujuan atau target tentu sadar bahwa untuk mencapai tujuan atau target atau goal tersebut kita perlu memompa kekuatan atau power kita. Pada zaman Orde Baru berdasarkan fakta yang ada, orang/ para penguasa sering sekali menggunakan kekuasaan dan kewenangan yang mereka miliki untuk mencapai tujuan/ goal yang mereka inginkan.

Hal itu sesungguhnya tidaklah baik, namun itu menjadi sebuah keniscayaan bagi manusia, sebab manusia biasanya suka mengunakan kekuasaan/ kekuatannya untuk mencapai atau mendapatkan apa yang dia inginkan. Sesungguhnya kekuasaan, kekuatan ataupun pengaruh pribadi yang dimiliki tidak selayaknya digunakan atau dipaksakan terhadap orang lain. Akan jauh lebih terhormat apabila orang dalam mencapai tujuannya dengan cara baik. Seperti meyakinkan orang dalam penjualan barang/ jasa, dengan melakukan lobby misalnya. Kegiatan lobby dalam banyak hal sangatlah penting. Baik dalam dunia bisnis maupun dalam percaturan politik.

Kegiatan lobby saya ibaratkan dengan kata “menjual diri”, kenapa demikian? Karena menurut pandangan saya me-lobby sama dengan kita “merayu” agar konsumen tertarik untuk membeli barang/ jasa yang kita tawarkan. Dalam “merayu” ini kita dituntut untuk menunjukkan semua kemampuan dan kelebihan yang kita miliki dalam melakukan komunikasi dengan konsumen, itu kenapa saya memberi istilah “menjual diri”.

Dalam kenyataan di lapangan kegiatan me-lobby bukanlah pekerjaan yang mudah, sangat sulit dan sangat rumit. Selain itu kemampuan me-lobby tidak mungkin datang begitu saja dengan instan. Dalam beberapa waktu ini negara kita sesungguhnya sedang diramaikan dengan pe-lobby-pe-lobby atau orang-orang yang “menjual diri”. Dalam pemilihan calon anggota legislatif beberapa waktu yang lalu kita dengan jelas bisa menyaksikannya, para calon anggota legislatif tersbut melakukan kampanye disana-sini. Baik dalam bentuk orasi, rapat tertutup dengan simpatisan, atau pun dalam bentuk alat-alat peraga kampanye, seperti pamflet, poster, spanduk, dan media lainnya baik cetak maupun elektronik. Tak lupa dalam mereka juga membubuhkan gelar akademis mereka atau gelar-gelar kemasyarakatan lainnya. Bahkan hubungan keluarga seseorang yang dianggap berpengaruh atau paling tidak dikenal oleh khalayak pun ikut ditambahkan, seperti cucunya pahlawan anu, kerabatnya artis anu, dan lain-lain. Secara tidak langsung mereka mau menunjukan tingkat kemampuan/ kompetensi mereka kelak seandainya terpilih. Selain itu mereka juga berharap bahwa dengan membubuhkan gelar atau menambahkan kekerabatan/ kedekatan dengan seseorang pemilih akan lebih simpati dan akan mempengaruhi pemikiran pemilih tentang dia.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, mereka sedang “menjual diri” mereka. Dengan melakukan kampanye mereka mempromosikan diri mereka, dengan harapan bahwa masyarakat atau pemilih mengenal mereka baik secara pribadi maupun program-program yang mereka usung.

Dalam konteksnya mengenai pekerjaan/ bisnis lobby memegang peran yang cukup vital. Kegiatan-kegiatan lobby yang dilakukan seperti, bertemu client, bertemu dengan orang-orang yang memiliki posisi/ pengaruh yang bagus di sebuah perusahaan atau instansi,  memberi sponsor atau pun hal-hal lain yang dianggap sanggup menarik atau mengunci para pelanggan. Pada dasarnya semua lobby yang dilakukan bertujuan akan kita mengenal terlebih dahulu pelanggan kita, mulai dari kegemarannya, hal-hal yang membuatnya senang, kepribadiannya, dan informasi-informasi penting lainnya tentang pelanggan kita. Namun lebih dari itu satu tujuan terpenting adalah agar kita dikenal atau lebih dikenal lagi oleh para pelanggan, baik dari segi kualitas produk/ jasa, jenis-jenis produk/ jasa yang kita miliki, pelayanan yang ditawarkan dan hal-hal mendetail lainnya. Ingat sebuah kalimat bijak “tak kenal maka tak sayang” hal ini berlaku juga pada dunia bisnis, terlebih pada bisnis-bisnis yang bergerak dalam bidang customer goods.

Saya yakin dan semua orang pun tahu bahwa setiap orang, setiap individu, setiap perusahaan, punya kemampuan atau memiliki daya jual bai dari segi barang/ jasa, pengalaman, cara berkomunikasi, kompetensi, minat, yang mereka miliki.

Hal lain yang terpenting ketika mau melakukan kegiatan lobby adalah jaringan kita. Saat ini banyak sekali jejaring sosial yang menawarkan perluasan jaringan atau Networking hal ini tentunya sangat positif dan sangat baik. Jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Tagged, Zorpian sangat efektif untuk menjalin pertemanan dan menambah jaringan bisnis. Selain jejaring sosial dari dunia maya kita juga memanfaatkan beberapa club-club. Seperti club hobi seperti club motor (bukan genk motor), club pecinta mobil, club futsal. Selain menambah teman tentunya juga menambah jaringan bagi kita dalam hal pekerjaan/ bisnis.

Dengan makin dekatnya kita dengan orang-orang yang berada dilingkaran pekerjaan dan dengan makin luasnya jaringan kita hal ini akan memudahkann kita dalam mendapatkan informasi tentang apapun yang berkaitan dengan pekerjaan kita. Dan secara otomatis akan menimbulkan ikatan bathin yang kuat. Karena sudah menjadi naluri manusia untuk mendahulukan siapa dan apa yang kita kenal sebelum kita mencari alternatif yang lain.

Kegiatan lobby sangat memerlukan visi yang jelas dan tegas.  Rasanya akan sangat sulit untuk meyakinkan, memukau, dan mengubah persepsi/ keputusan orang bila individu yang mempengaruhi/ yang me-lobby tidak menguasai materi atau substansi dari apa yang dibicarakannya. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa dalam kegiatan lobby terdapat kegiatan, tukar menukar (barter) informasi, pendapat, dan yang lainnya sehingga kita dituntut untuk mumpuni dan menguasai dalam hal apa yang kita sampaikan. Disini product-knowledge dari seorang pe-lobby sangat berperan.

Satu hal yang harus kita sadari dalam hal apapun supaya kita mudah dikenal dan mempunyai ciri khas tersendiri kita harus kreatif. Kalau dalam produk kita dituntut untuk melakukan inovasi produk untuk menanggulangi kejenuhan pasar atas produk kita, begitu juga dalam lobby kita memerlukannya, sangat memerlukannya. Baik kreatif dalam hal penyampaian maupun dalam penampilan.

Dalam penyampaian kita bisa perlu kreatif baik dalam hal pemilihan kata yang tepat, metode penyampaian, gesture atau bahasa tubuh kita dan esensi dari materi yang kita sampaikan. Sedangkan dalam penampilan kita perlu kreatif dalam menyiasati penampilan kita seperti pemakaian baju yang sesuai dengan tema, tidak berlebihan dalam bersolek dan lain-lain. Dalam pepatah ada kalimat seperti ini : ”saat kita berjalan kita dihargai dengan apa yang kita pakai, sedangkan saat kita duduk (berbicara) kita dihargai karena ilmu (apa yang kita sampaikan)”.

Semoga Bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s