Hari-hari belakangan ini kita tengah disuguhi sebuah berita yang cukup banyak menyedot perhatian penonton baik di acara “berita-berita serius dan penting” maupun berita-berita infotainment. Kasus hampir sama berkaitan dengan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yaitu kasus Luna Maya dan Prita.

Kedua kasus ini ada kemiripan meski berbeda. Kemiripan yang saya maksud adalah penggunaan Pasal yang dikenakan antara lain 310, 311, 315, 335 dan Pasal 27 ayat 3 junto pasal 45 ayat 1 UU ITE, dengan ancaman hukuman 6 tahun dan denda maksimal Rp1 miliar.

Jika Prita di Polisi-kan karena melakukan ‘curhat’ melalui e-mail sedangkan Luna Maya di Polisikan karena meng-update status di twitternya dengan kalimat ini :

Luna Maya

Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!,”.

Prita melakukan ‘curhat’ karena merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan oleh sebuah Rumah Sakit, sedangkan Luna Maya meng-update status demikian karena merasa jengkel dengan awak media yang terus memintanya wawancara.

Kedua kasus ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang gemar berselancar di dunia maya, baik melalui jejaring sosial, blog, web maupun e-mail bahwa ternyata kebebasan kita itu ada batasnya. Ada satu sekat tipis antara kebebasan kita dengan orang lain.

Pun demikian bagi para pemburu berita, mereka pun memiliki batas-batas tertentu dalam menyampaikan dan terlebih mencari berita. satu hal yang perlu diingat dan digaris bawahi adalah, bahwa setiap orang berhak memiliki kehidupan yang bebas, tidak terkekang dan berhak memiliki privacy. Jangan sampai dalam mengejar bahan berita mengabaikan hak orang lain tersebut.

Benar, sekarang kita memasuki era kebebasan, era demokrasi namun jangan sampai kita kebablasan. Semua orang tentu sepakat, setiap kebebasan tentu ada batasnya, tentu ada norma, ada etika yang memagari kebebasan itu.(dni/cnj).

Advertisements