Tingginya Angka Perceraian

Tidak sengaja saya membaca Harian Tribun Jabar Edisi Kamis 05 November 2009, pada salah satu kolom/ rubriknya ada tulisan dengan judul “ 1.600 Istri Gugat Cerai Selama 2009”. Saya merasa tertarik dengan tulisan ini. Saya sebagai salah satu warga Jawa Barat yang tinggal di kota Bandung terus terang merasa sangat kaget dan terhenyak membaca berita tersebut, bayangkan ada 1.600 gugatan cerai dari bulan Januari sampai dengan bulan Agustus jika dirata-ratakan berarti ada sekitar 200 kasus gugatan cerai tiap bulannya. Angka yang fantastis!

Dari data di harian tersebut jika dibandingkan dengan tahun 2008 angka-angkanya saya dapat sajikan sebagai berikut :

  1. Cerai Gugat (diajukan pihak istri)
    • Januari – Agustus 2009          : 1.600 Kasus
    • 2008                                      : 1.880 Kasus
    1. Cerai Talak (diajukan pihak suami)
      • Januari – Oktober 2009         : 608 Kasus
      • 2008                                      : 710 Kasus

      Yang menjadi permasalahannya sekarang adalah apa penyebab tingginya angka perceraian tersebut?, apa yang salah dengan komitmen pernikahan? Dan kenapa orang memilih jalan perceraian sebagai solusi? Ingat bahwa itu baru perceraian yang terdaftar, belum lagi perceraian yang tidak terdaftar karena pernikahannya di bawah tangan.

      Penyebab dan Akar Masalah

      Bagi saya kata cerai sudah akrab ditelinga sejak saya kecil, sebelum saya paham dan mengerti apa arti dari kata tersebut.

      Kembali ke topik!

      Tingginya angka perceraian bisa disebabkan oleh banyak faktor dan sebab, tentu saja tiap-tiap individu yang melakukannya mempunyai argumen dan alasannya sendiri-sendiri. Dalam beberapa hari ini saya coba memikirkan dan dan mengumpulkan informasi tentang penyebab seseorang memutuskan untuk cerai, berikut beberapa penyebabnya:

      1. Sudah tidak ada lagi kecocokan, penyebab ini yang jadi rangking pertama penyebab tingginya angka perceraian. Kita tentu sudah tidak kaget lagi jika ada seorang artis yang bercerai ya jawabannya “kami sudah tidak lagi memiliki kecocokan”.
      2. Kekerasan dalam rumah tangga atau lebih terkenal dengan KDRT, baik kekerasan fisik maupun psikis.
      3. Perselingkuhan atau adanya orang ke-tiga dalam perkawinan, kasus paling gress tentang hal ini adalah kasus perceraian Anang dan Krisdayanti. Yang katanya salah satu puhak melakukan perselingkuhan.
      4. Faktor ekonomi, faktor ini sangat krusial. Faktor ekonomilah biasanya yang banyak menimbulkan permasalahan dalam perkawinan.
      5. Pernikahan dini, bagi saya pernikahan dini merupakan salah satu penyebab tingginya angka

      perceraian dikalangan masyarakat kita. Saya sedikit bercerita kenapa pernikahan dini bisa menyebabakan tingginya angka perceraian.

      Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan oleh seseorang pada usia yang relatif belum cukup untuk membina sebuah bahtera rumah tangga. Nah, didaerah saya khususnya (Jawa Barat) angka pernikahan dini cukup tinggi. Begitu lulus SMA langsung nikah, bahkan yang baru lulus SMP pun banyak yang dinikahkan dengan berbagai alasan. Kita tahu bahwa pada usia ini seseorang masih berada pada masa-masa labil dan masa pencarian jati diri. Sehingga ketika mereka mengarungi kehidupan yang baru mereka belum siap secara psikis.

      Cerai

      Sedikit Solusi

      Itulah beberapa penyebab tingginya angka perceraian yang saya pahami, mungkin masih ada penyebab-penyebab lainnya. Jika kita sudah tahu apa penyebab tingginya angka perceraian, selanjutnya adalah bagaimana supaya angka perceraian tersebut dapat diminimalisir. Rasanya akan sangat sia-sia jika kita mengetahui penyebab namun tidak memiliki cara untuk mengurangi penyebab-penyebab tersebut, berikut beberapa cara atau solusi mengurangi angka perceraian:

      1. Mengingatkan kembali komitmen awal dari sebuah pernikahan, banyak sepertinya orang yang sudah menikah lupa apa sebenarnya maksud dan tujuan dari pernikahan yang mereka jalani, sehingga begitu ada perselisihan dengan sangat gampang mengatakan cerai. Perselisihan, berbeda opini, merupakan satu hal yang wajar dan merupakan bumbu penyeimbang dari sebuah pernikahan.
      2. Menerima pasangan apa adanya, jika kita sudah bisa menerima pasangan kita apa adanya saya pikir perselingkuhan, kesenjangan ekonomi, dan ketidak cocokan tidak akan terjadi. Saya yakin angka perceraian pun tidak akan terlalu tinggi, andai saja semua pasangan mau menerima pasangan hidupnya apa adanya. Baik kurangnya maupun lebihnya.
      3. Menjauhi pernikahan dini, banyak orang tua berpikir jika anaknya sudah menikah maka tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk menafkahi anaknya sudah selesai. Sehingga begitu anak menginjak umur tertentu dan ada yang mendekati mereka langsung dinikahkan, selain itu alasannya adalah untuk menghindari perzinahan. Alasan kedua bagi saya cukup logis, namun apakah pernikahan hanya masalah biologis??? Tentu saja tidak, aspek lain pun perlu dipikirkan matang-matang.

      Pernikahan bukanlah sebuah perjalanan yang diarungi untuk satu atau 2 bulan saja, tapi untuk seumur hidup. Dari itu, karena pernikahan merupakan perjalanan panjang maka bekal yang harus dibawa dan dipersiapkan pun harus seimbang. Baik bekal ilmu, ekonomi, dan kematangan emosi.

      One thought on “Tingginya Angka Perceraian

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

      Connecting to %s