Cicak dan Buaya

Kalo ditanya kabar paling hits saat ini, tentu semua orang akan menjawab hal yang sama yaitu perseteruan antara dua lembaga penegak hukum di negara kita yaitu Polri dan KPK. Jika kita mengikuti perkembangan kasus ini dari awal tentu kita tahu bahwa asal mula kasus ini berawal dari testimoni yang dibuat oleh mantan ketua KPK Antasari Azhar.

Kasus ini terus bergulir, menggelinding bak bola salju yang terus membesar menyeret beberapa nama pejabat negara bahkan RI-1 pun ikut tercatut namanya. Beberapa hari belakangan ini kasus ini pun menjadi kian panas setelah polisi menahan Bibit Riyanto dan Chandra M. Hamzah. Karena penahan itu jugalah suasana kini kian memanas. Dukungan kedua belah pihak yang bertikai terus bergulir dari berbagai kalangan, termasuk dari para facebookers.

Cicak Vs Buaya

cicak-vs-buaya

Yang menarik dari kasus ini adalah munculnya sebutan atau istilah Cicak versus Buaya. Sebutan ini munculnya setelah adanya statement dari Susno Duaji saat berbicara dengan para pemburu berita menanggapi penyadapan telepon yang dilakukan KPK terhadap dirinya. Berikut kutipan ucapan Susno Duaji yang saya kutip dari Majalah Tempo :

“Kalau orang berprasangka, saya tidak boleh marah, karena kedudukan ini (Kabareskrim) memang strategis. Tetapi saya menyesal, kok masih ada orang yang goblok. Gimana tidak goblok, sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kerjakan kok dicari-cari. Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya. Apakah buaya marah? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh saja. Kita itu yang memintarkan, tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter. Dikasih kekuasaan kok malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa.”

Dari ucapan tersebut banyak orang menafsirkan bahwa kata buaya ditujukan pada instansi POLRI dan cicak ditujukan untuk KPK. Tentu banyak kalangan yang geram dengan ucapan Susno tersebut, karena dianggap mengerdilkan KPK. Meski Susno Duaji menentang dengan keras anggapan tersebut.

Dan kemarin sore Kapolri Jend. Bambang Hendarso Danuri meminta agar istilah cicak versus buaya tersebut tidak lagi digunakan dalam pemberitaan di media. Dengan maksud agar tidak tambah memperkeruh suasana yang memang sudah butek (o/ penulis).

Transkrip

Beberapa hari ini muncul kabar mengejutkan tentang adanya transkrip percakapan antara Anggodo dengan beberapa orang terkait uapaya pengkriminalisasian KPK. Kemunculan transkrip inilah yang kemudian memperkeruh suasana diantara kedua instansi tersebut, dan transkrip ini pula lah yang membuat Polri seperti kebakaran jenggot hingga melakukan penahan kedua mantan petinggi KPK tersebut. Dan dari transkrip ini pula muncul istilah kriminalisasi KPK.

Dalam transkrip ini pula disebut instansi lain seperti Kejaksaan Agung bahkan RI-1, tentu saja hal ini memancing reaksi keras istana. Hingga presiden pun merasa perlu berbicara menanggapi pencatutan namanya dalam transkrip tersebut. Bahkan akhirnya Presiden pun membuat team pencari fakta, tentu ini langkah yang baik dalam penyelesaian kasus ini. Kita semua tentu berharap bahwa kasus ini akan cepat selesai dan tidak menggantung bahkan terlarut-larut.

Penahanan Chandra & Bibit

Gelombang demonstrasi dan dukungan kepada Chandra dan Bibit terus mengalir deras, bahkan beberapa orang meminta Chandra dan Bibit dibebaskan demi hukum dan mereka bersedia dijadikan jaminan. Penahanan dilakukan dengan alasan Chandra dan Bibit terlalu leluasa melakukan jumpa pers/ konfrensi pers sehingga akan dapat dengan mudah mempengaruhi opini publik. Inilah kenapa banyak sekali yang menentang penahana tersebut. Bibit dan Chandra selama ini dianggap sangat kooperatif dalam melakukan kewajibannya untuk melakukan lapor ke Mabes Polri setiap Senin dan Kamis.

Kepastian Hukum

Secara pribadi saya merasa sangat resah dengan tidak rampung-rampungnya kasus ini bahkan cenderung terus membesar. Saya sangat khawatir jika kasus ini terus bergulir tanpa ada kepastian hukum akan berimbas pada berbagai aspek. Investasi misalnya, para investor akan berpikir ulang untuk berinvestasi karena investasi merupakan salah satu aspek perekonomian yang sangat memerlukan kepastian hukum karena berhubungan dengan kepercayaan dan rasa aman.

Terlebih saat ini aksi demo saling dukung terus bermunculan, secara tidak langsung hal ini akan disambut negatif oleh pasar.

Sikap Kita

Tentu semua orang berhak bersikap apa pun dalam menyikapi kasus apa pun termasuk dalam kasus ini, namun alangkah bijaksananya jika kita menyikapinya dengan arif dan kepala yang dingin. Biarkan proses hukum berlanjut, biarkan pengadilan membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Rasanya tidak perlu berdemo, berorasi, atau melakukan aksi treatrikal. Karena fakta membuktikan aksi seperti itu rawan kericuhan, tidak menyelesaikan masalah bahkan menambah masalah.

Kita tentu sepakat bahwa langkah-langkah pemberantasan korupsi harus terus dilanjutkan, siapa pun yang memangku jabatan dilembaga KPK tersebut.

2 thoughts on “Cicak dan Buaya

  1. anung Yusmar says:

    Kini ada tayangan baru Berjudul “SIAPA MENYUAP SIAPA DISUAP”
    Creator : Anggodo W
    Sutradara : Anggodo W
    Peran Utama : Anggodo W

    Rating saat ini sudah mengalahkan SInetron unggulan cINTA fITRI Buktinya banyak ibu-ibu yang marah telat nonton cinta fitri karena bapak-bapak Lagi gandrung dengan tayangan sinetron baru itu.

    anda nonton juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s