Generasi Anarkis

DemoDemo lagi, ricuh lagi, tawuran lagi….sedih rasanya melihat realita kehidupan di setiap berita atau liputan televisi kita. Tiap hari selalu saja ada kabar/ berita tentang adanya demo yang ujungnya ricuh dan anarkis. Yang membuat saya sebagai salah satu generasi bangsa sangat prihatin adalah aksi anarkis dan tawuran itu banyak didominasi oleh para intelektual muda kita atau akrab kita sebut mahasiswa. Terakhir pada peringatan hari sumpah pemuda kemarin pada tanggal 28 Oktober 2009, hampir disemua statiun televisi mengabarkan tentang demo mahasiswa yang ricuh.

Apakah ini yang disebut dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi??? Coba kita tengok berita-berita di televisi tiap hari selalu saja berita-berita ini menghiasi layar kaca. Geram….benar saya sangat geram menyaksikannya, malu, dan merasa bahwa ada sesuatu yang salah.

Kita semua tahu bahwa mahasiswalah yang meruntuhkan rezim Orde Baru, gerakan pemudalah yang ikut membakar api perjuangan untuk merdeka. Namun saat ini semua itu sepertinya gerakan-gerakan pemuda dan mahasiswa tersebut hampa makna, yang penting demo, turun kejalan, berteriak-teriak dengan lantang, tanpa esensi yang jelas. Mungkin inilah yang disebut dengan kebebasan berpendapat yang kebablasan.

Saya berkata demikian karena jika memang para pendemo memiliki tujuan yang jelas mereka tidak perlu anarkis, tidak perlu dorong-dorong, tidak perlu aksi lempar batu, tidak perlu adu jotos, tidak perlu menerobos pagar. Toh pada dasarnya tujuan demo tersebut adalah menyampaikan aspirasi, pendapat dan opini. Akan jauh lebih terhormat dan alangkah eloknya jika para demonstran tersebut melakukan aksi demo yang simpatik, tentunya para demonstran akan lebih dihargai. Aspirasi mereka akan diperhatikan dan didengarkan, jika ada yang ingin ditemui pun rasanya mereka tidak akan menolak selama mereka tidak anarkis, tidak brutal dan simpatik.

Karena rasa aman dan nyamanlah yang menjadi salah satu faktor mau atau tidaknya seseorang untuk ditemui, jika yang mau menemuinya saja sudah anarkis bagaimana rasa aman dan nyaman itu akan hadir??? Kita pun pastilah tidak akan menemui seseorang yang sedang emosi dan anarki.

Menyampaikan pendapat, opini, atau pun pandangan merupakan hak asasi yang dilindungi oleh undang-undang selama saluran, sarana dan cara yang ditempuh berada pada koridor yang tepat dan santun. Selain berdemo banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyampaikan pendapat seperti lewat tulisan. Blog salah satu contoh alat atau saluran untuk menyampaikan pendapat.

Selain demo, yang sering terjadi dikalangan pelajar dan mahasiswa adalah tawuran. Ini jauh lebih memprihatin karena biasanya tawuran tidak membela apapun, bahkan biasanya berawal hanya dari masalah sepele, seperti masalah rebutan wanita, tersinggung dan hal-hal lain yang secara logika tidak perlu sampai terjadi tawuran. Cukup diselesaikan dengan dialog.

Miris!!!, generasi muda, para pemuda yang harusnya menjadi harapan masa depan bangsa ini, saat ini seperti telah kehilangan ruh kepemudaannya. Generasi muda sekarang cenderung memilih hal-hal negatif dan bersifat anarkis. Genk motor, genk sekolah, genk kampus, merupakan contoh nyata.

Merefleksikan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober, alangkah bijaksananya jika kita lebih banyak berbuat yang positif, tidak anarkis, berpikir positif, berperan aktif dalam pembangunan.

Bravo Pemuda Indonesia, Jaya selalu Bangsa ku….

6 thoughts on “Generasi Anarkis

  1. Diosi says:

    Bener banget!!!!
    banyak pemuda yang kehilangan jati dirinya…
    kita sebagai generasi muda bangsa ini, jangan terbawa arus negatif…
    lanjutkan kritik-kritik dan opininya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s