Bandung

Sejak kecil saya sudah akrab dengan nama kota ini. Ya,  Bandung Ibukota Jawa Barat, Kota Kembang, Kota Sahabat, Paris Van Java, Kota Mode. Saya tidak pernah menyangka akan mengalami bermukim dan berkarier di Kota ini. Saat saya menginjakan kaki ke kota Bandung untuk bekerja, saya tidak sedikit pun terpikir dengan segudang permasalahan dijalanan kota Bandung. Saya berpikir kota ini adalah kota yang sejuk, rapi, teratur, ramah dan bermartabat.

Karena waktu dulu saya kecil Bandung memang rapi, dan nyaman untuk ditinggali. Saya salah, Bandung sekarang ternyata sudah jauh berbeda dengan Bandung yang dulu. Kemacetan, PKL, Pasar Kaget, gunungan sampah, Genk Motor, Anak Jalanan, semrawutnya lalu lintas dan masalah lain sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang dapat ditemui dengan mudah.

Bandung

Kebetulan tiap hari kantor tempat saya bekerja berlangganan koran harian lokal (Tribun Jabar), rubrik yang menurut saya paling menarik adalah rubrik interaktif dengan Walikota Bandung Dada Rosada dengan rubrik Hallo Kang Dada, di rubrik ini isinya semua keluhan-keluhan warga Bandung tentang Kota Bandung. Dan masalah yang dikeluhkan setiap harinya selalu sama kalo ga PKL, ya Genk Motor, ya Kemacetan, ya Jalan yang rusak, ya Sampah, anak jalan dan masalah-maslah sosial lainnya yang menurut saya membuat kita tidak nyaman. Saya terus terang sangat tertarik untuk membuat tulisan tentang kota Bandung meski hanya sederhana saja.

Kota Bandung sebagai salah satu kota Pariwisata, tujuan wisata utama orang-orang Jakarta dengan seabreg gelar/ sebutan harusnya bisa berbenah. Dengan tingginya angka wisatawan Bandung harus lebih siap untuk menyambutnya dengan kenyamanan, bukan kemacetan. Jika anda berkunjung ke kota Bandung di akhir pekan siap-siap saja terjebak kemacetan dibeberapa ruas jalan seperti jalan Merdeka, Jalan Setiabudi, daerah Dago, Jalan Cihampelas dan berbagai ruas jalan lainnya. Kemacetan di akhir pekan sudah menjadi pemandangan yang rutin. Selain karena ruas jalan yang sempit, dan tingginya volume kendaraan hal lain yang menyebabkan kemacetan tersebut adalah minimnya rambu-rambu lalu lintas di kota berjuluk Kota Sahabat ini.

Banyak teman-teman saya yang datang dari luar kota Bandung mengeluhkan tentang minimnya rambu-rambu lalu lintas di kota ini. Nama jalan yang copot, lampu merah yang tidak berfungsi, penunjuk jalan yang terhalang pepohonan, dll. Ini tentu akan sangat membingungkan bagi wisatawan, terutama bagi orang yang pertama kali berkunjung ke kota ini. Bayangkan menurut harian Tribun yang terbit hari Rabu tanggal 28 Oktober 2009 kota Bandung kekurangan sekitar 300 rambu lalu lintas. Hebat! Saat ini kota Bandung baru memiliki 60 buah rambu, dari yang idealnya 360 rambu.

Yang konyolnya lagi APBD 2009 kota ini hanya menganggarkan pembuatan lampu hanya untuk sebanyak 4 buah saja. Hmmmmmm….miris! jika tiap tahun hanya dianggarkan 4 buah, berapa lama lagi ya kota ini akan memiliki rambu-rambu yang memadai??? belum lagi rambu yang ada pun tidak terawat, banyak rambu yang mati baik mati sebagian maupun mati total.

Ini permasalahan yang harus diselesaikan oleh pemerintah Kota Bandung, jangan sampai berlarut-larut. Karena jika ini dibiarkan saya khawatir kesan masyarakat terhadap kota Bandung jadi negatif. Saya disini tidak dalam posisi memojokan pemerintah Kota Bandung, namun memberi sedikit opini, ini tanggung jawab kita. Karena kita semua cinta kota Bandung, kita ingin melihat kota ini benar-benar Bermartabat, bukan hanya jargon semata. Yuk, kita buktikan bahwa kota kita ini masih bisa berbenah.

2 thoughts on “Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s