2 Comments

Pembangunan Masyarakat Desa

Desa merupakan salah satu bagian terkecil dari rangkaian urut-urutan sebuah Negara (di Indonesia). Desa dari dulu kala selalu identik dengan ketertinggalan, kotor, udik dan hal-hal lain yang selalu diidentikan dengannya. Dan desa pun senantiasa selalu tertinggal dari pembangunan-pembangunan nasional di Indonesia, baik pembangunan dalam bentuk infrastruktur maupun dalam hal pembangunan sumber daya manusia sebagai aset terbesar.

Orang desa harus berjuang sendiri untuk membangun desanya. Sebab, bantuan dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah Kabupaten tidak pernah menyentuh pembangunan di desa. Entah berhenti dimana, dan dipegang siapa.

Pembangunan infrastruktur di pedesaan sangatlah jauh dari apa yang diharapkan untuk bisa menaikkan taraf hidup masyarakat desa dan menggenjot perekonomian di pedesaan. Satu contoh kecil yang tidak bisa terbantahkan adalah masalah jalan, jalan merupakan sebuah instrument yang sangat vital dalam pembangunan baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Jalan menjadi sangat vital karena ketika jalan bagus maka masyarakat desa secara langsung dapat menjual atau mengirimkan hasil hutan mereka ke kota. Disini akan ada transaksi dan salah satu aspek perekonomian telah terpenuhi yaitu terjadinya transaksi, selain itu dengan bagusnya jalan maka mobilitas masyarakat desa akan tinggi dengan tingginya tingkat mobilitas masyarakat desa maka akan ikut menggenjot perekonomian pedesaan.

Dengan bergeraknya seseorang keluar dari tempat tinggalnya (desanya) ia akan dapat menaikan pendapatan orang lain, sebagai contoh Ibu A dari kota AZ hendak pergi ke kota ZA, ketika ia berangkat dari rumah ia menggunakan angkutan umum sampai kota ZA. Sesampainya di kota ZA ia berbelanja dan kembali pulang ke kota AZ. Kita uraikan satu persatu, ketika ibu A berangkat ia menggunakan kendaraan umum, pasti ia bayar ongkos kan? Nah, dengan membayar ongkos tersebut ia telah menambah penghasilan Sang Sopir dan Sang Kondekturnya. Sang Sopir dan Sang Kondektur pun pasti akan menambah pendapatan orang lain yaitu pedagang bensin di SPBU, Sang pemilik SPBU pun ikut menaikkan pendapatan oranglain yaitu karyawannya, Sopir Pengantar bensin, Pegawai di depo Pertamina, bahkan menambah pendapatan Negara dengan Pajak.

Sesampainya di kota ZA Ibu A berbelanja, saat ibu ini berbelanja ia telah menambah penghasilan Pemilik Toko, Pelayan Toko, Distibutor (Agen) Produk-produk dan Produsen produk yang dibeli.

Bayangkan perputaran uang dan pertambahan penghasilan yang didapat hanya dari satu orang desa yang berangkat ke kota. Apalagi seandainya lebih banyak lagi orang yang berangkat ke kota. Itulah kenapa peran jalan sangat vital dalam pembangunan. Saya pernah berbincang dengan salah seorang pegawai kelurahan di desa saya, saya bertanya kenapa ya pembangunan jalan ke desa kita tidak pernah terlaksana? Sudah beberapa periode pemerintahan masih sama, tidak ada perubahan.

Beliau menjawab bahwa di desa kita tidak ada yang menonjol dan tidak ada yang bisa dijual ke Pemerintah Kabupaten. Alasan yang menurut saya sangat tidak fair, kenapa? Karena desa kami tidak ada yang menonjol karena memang infrastruktur kita masih sanagt minim, salah satunya jalan. Bagaimana kita mau menonjolkan desa kita jika sarananya saja tidak mendukung?. Desa kami cukup menonjol andai saja sarana dan prasaranya memadai. Kita bisa menonjolkan keindahan alam seperti: Air Terjun, Gua-Gua, Wisata Ekologi dan lain-lain. Cuma permasalahannya bagaimana orang mau berkunjung kalo akses jalan saja sangat sulit.

Hal lain yang cukup vital dalam pembangunan pedesaan adalah penyediaan sarana dan prasarana untuk publik seperti sarana olahraga, dikebanyakan desa di daerah saya sedikit sekali desa yang memiliki sarana untuk berolahraga, seperti lapangan voli, lapangan sepak bola apalagi GOR. Kalau pun ada keadaannya sangat memprihatinkan atau seadanya. Keberadaan sarana seperti ini jelas sangat penting, selain untuk menjaga kebugaran biasanya sarana olahraga dimanfaatkan warga desa untuk bercengkrama dan berkumpul untuk mempererat tali persaudaraan dan solidaritas diantara mereka setelah mereka dari pagi bergelut dengan pekerjaan masing-masing.

Hal lain yang sangat diperlukan bagi masyarakat desa adalah taman baca atau paling tidak perpustakaan keliling. Kenapa demikian? Ingat bahwa didesa semuanya sangat terbatas, baik informasi maupun sarana-sarana untuk mereka mendapat informasi tambahan.

Paling-paling sarana yang ada hanya TV dan radio, kita tahu bahwa kebanyakan stasiun TV saat ini sedikit sekali yang bisa memberikan informasi yang akurat, acara-acara televis sekarang dibanjiri oleh acara-acara yang kurang edukatif seperti sinetron yang membuat orang desa jadi pengkhayal, acara-acara gossip yang membuat ibu-ibu di pedesaan malas bekerja dan seabreg acara lainnya yang sungguh tidak mendidik sama sekali.

Jadi sarana seperti taman baca/ perpustakaan keliling menurut saya strategis untuk memberikan informasi tambahan, penambah pengetahuan bagi masyarakat desa, juga untuk merangsang minat baca masyarakat desa. Karena survey-survey yang ada menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah.

Pembangunan pedesaan selain masalah infrastruktur yang tak kalah penting adalah masalah sumber daya manusia (SDM). Sumber daya manusia merupakan aset yang sangat berharga dan sangat vital bagi setiap bangsa. Perusahaan-perusahaan dalam mencari calon karyawannya pasti akan mencari karyawan (sumber daya manusia) yang berkualitas. Salah satu syarat untuk menjadikan SDM berkualitas adalah mendapatkan Pendidikan dan Pelatihan untuk memperoleh keterampilan dan keahlian.

Pendidikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia masyarakat di pedesaan khususnya adalah sesuatu yang sangat mahal, kalimat ini tentu tidak salah. Realitanya memang seperti itu, pendidikan di Indonesia cukup Mahal. Meski saat ini sudah ada program Sekolah Gratis, namun hal itu tetap saja tidak menjadikan Sekolah itu benar-benar tidak berbayar. Sekolah gratis yang ada saat ini hanya sampai jenjang SMP/SLTP atau yang sederajat.

Jenjang pendidikan ini tentu saja masih kurang untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya biayanya ‘selangit’ bagi mereka tinggal di desa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMU/SMK sanagtlah mahal harganya, kenapa? Karena selain harus membiayai sekolah (iuran, praktikum, beli buku, seragam, study tour, dll) juga harus membiayai biaya kehidupan sehari-hari yang otomatis akan jauh lebih besar karena biasanya anak-anak mereka harus mengontrak rumah atau paling tidak nge-kost.

Tentu biaya hidup akan jauh lebih tinggi di banding dengan pendapatan di desa yang tidak ‘seberapa’. Hal ini dikarenakan di desa-desa belum ada sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi.

Saya jadi teringat cerita orang-orang di kampung saya, pada tahun 80-an sampai awal tahun 90-an kebetulan di desa saya belum ada SMP/ SLTP, yang ada baru SD. Ketika mereka lulus dari SD dan hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SLTP/SMP mereka harus berjuang karena paa waktu itu di daerah kami belum mengenal dan belum ada yang namaya nge-kost atau pun kost-kotan.

Selain ke desa kami belum ada listrik, jalan masih kecil, sepanjang jalan yang dilewati belum ada penduduk, jarak yang ditempuh lebih dari 10 kilo sehingga mereka harus berangkat dari rumah untuk mencapai sekolah sebelum subuh atau sekitar pukul 4.00, selain itu mereka pun harus melintasi sungai besar (Ciwulan) yang airnya sangat deras karena pada waktu itu belum ada jembatan, sebuah perjuangan yang luar biasa dan berat untuk mendapatkan sebuah pengajaran dan pendidikan.

Setelah pada sekitar tahun 1992-an dibangun sebuah SLTP negeri di desa kami, peristiwa perjuangan seperti di atas tak terjadi lagi. Namun tetap jadi permasalahan ketika mereka hendak melanjutkan ke jenjang SLTA/ SMU. Ini tentu harus menjadi perhatian dari pemerintah dan menjadi prioritas bagi pemerintah. Bukankah anggaran pendidikan sudah naik 20% dari APBN? Memang benar desa di Indonesia tidak hanya satu.

Namun paling tidak political will dari pemerintah akan bisa mewujudkan mimpi besar masayarakat desa untuk bisa mendapat pendidikan dan pengajaran, sehingga mereka memperoleh keterampilan supaya mereka menjadi manusia yang berkualitas. Serhingga mereka dapat meningkatkan taraf hidup mereka, dan memberikan andil dalam pembangunan.

Selain pendidikan formal di desa-desa biasanya ada pendidikan in-formal yang diadakan atas inisiatif dari warga untuk menambah edukasi ataupun pengetahuan dari anak-anak mereka. Baik pendidikan keagamaan maupun pendidikan keterampilan lainnya.

Pendidikan-pendidikan in-formal seperti ini jarang sekali mempeoleh perhatian apalagi pendidikan yang berbau agama, banyak orang beranggapan pendidikan agama memang penting namun bagi yang mengajarnya biarkan Tuhan yang memberrikan pahala atas jasa-jasanya dalam mendidik dan mengajarkan ilmu pada anak-anak mereka/ pada mereka sendiri.

Ini memang tidak sepenuhnya salah, namun untuk saat ini kita harus realistis bahwa hidup kita/ para ulama/ustadz sekalipun tidak hanya mengandalkan ‘pahala’ dari Tuhan. Bahwa mungkin mereka bekerja atas panggilan jiwa, itu hal lain. Ulama, ustadz, kyai juga punya hidup, punya keluarga, mereka butuh makan, butuh sandang dan memiliki kebutuhan lain yang sama dengan manusia lainnya.

Memang benar kita tidak benarkan menjual ayat (dalil-dalil) untuk kebutuhan hidup, namun saat ini kita harus realistis. Minggu lalu saat saya kebetulan pulang kampung, saya berbincang dengan salah seorang Pengurus DKM (Pengurus Mesjid). Saya menanyakan tentang perkembangan Madrasah Diniyah di kampung saya, jawabannya sungguh menyedihkan dan menghenyakan saya.

Saat ini di Madrasah Diniyah kampung kami ada 100 lebih siswa, dengan pengajar ada 3 orang. Pengajar ini bukanlah Pegawai Negeri, status yang selalu membuat orang tua di kampung saya bangga, mereka petani biasa. Hidup mereka hanya dari hasil bertani itu.

Setiap bulan menurut kesepakatan antara orang tua murid dengan tokoh masyarakat setiap siswa akan dipungut biaya sebesar Rp. 2.500;. Selain untuk meng’gaji’ guru ngaji juga untuk biaya operasional, seperti membeli kapur tulis (karena di Madrasah Diniyyah kampung saya papan tulisnya masih pakai black-board), memperbaiki bangku-bangku yang sudah rusak, juga untuk keperluan lainnya. Seharusnya setiap bulan jika semua siswa membayar iuran bulanan sebesar Rp. 2.500; persiswa maka dari 100 siswa, setiap bulan akan terkumpul uang sebesar Rp. 250.000;. ini tentu jumlah yang sangat sedikit jika dibagi-bagi untuk gaji, beli kapur tulis dan keperluan lain. Mirisnya setiap bulan Madrasah Diniyyah hanya mendapat pendapatan dari iuran rata-rata perbulan sebesar Rp. 40.000; ini berarti tiap bulan hanya sebanyak 16 orang siswa saja yang mampu membayar iuran tersebut.

Satu realita kemiskinan di pedesaan yang memang nyata, dan tidak bisa disangkal. Maksud saya disini, betapa menyedihkannya nasib dunia pendidikan kita. Kita sebenarnya masih beruntung memiliki orang-orang yang mau berjuang demi pendidikan. Mereka inilah yang pantas disebut pahlawan.

Ingat bahwa untuk meningkatkan taraf hidup kita perlu pendidikan yang layak supaya kita memiliki keterampilan dan kemampuan yang mumpuni. Sedangkan untuk mendapatkan pendiikan tersebut sudah pasti bahwa kita memerlukan biaya, dari sini kita tahu bahwa keduanya merupakan rantai yang tidak diputus. Kenyataan yang ada bahwa banyak orang-orang yang memiliki ‘otak yang encer’ (pintar), harus terhenti pendidikannya karena alas an materi atau biaya tersebut.

Satu hal lagi yang tak kalah penting dibandingkan dengan Infrastruktur dan Pendidikan adalah Sektor Kesehatan, Sarana kesehatan bagi masyarakat di pedesaan selama ini masih sekedar wacana dan mimpi. Sarana yang diberikan pemerintah sangatlah kurang, bahkan bisa dikatakan tidaak ada.

Di desa saya sampai saat ini belum ada 1 pun Puskesmas ataupun Puskesmas pembantu, jika warga ada yang sakit ya harus beli eceran yang dijual oleh seseorang, jelas ini menyalahi aturan sebab obat-obatan seperti itu selayaknya didapat dengan menggunakan resep dokter.

Sektor keseshatan merupakan salah satu sektor yang sangat krusial bagi pembangunan masyarakat desa, karena pada dasarnya kesehatan adalah modal awal bagi tiap-tiap individu untuk bisa beraktivitas dan menjalankan kegiatan-kegiatan lainnya.

Inti dari semua tulisan saya adalah bahwa pembangunan dipedesaan perlu ditekankan pada dua hal yaitu pembangunan infrastruktur dan pembangunan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa serta pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.

Salah satu cara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan meningkatkan taraf kesehatannya. Tentunya pembangunan diantara tiga aspek tersebut harus seimbang dan sejalan, agar tidak ada ketimpangan.

Pembangunan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun tanggung jawab kita sebagai generasi muda, tanggung jawab putra daerah untuk memajukan kampung halamannya, tanggung jawab anak bangsa untuk membangun negeri.

Diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah di desa agar pembangunan yang akan dilakukan tepat sasaran dan tidak sia-sia belaka.

Menjadi tanggung jawab masayarakat untuk memeliharanya ketika pembangunan itu sudah dilakukan. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pembangunan masyarakat desa, baik dalam segi pendidikan maupun infrastruktur. Dari itu, mari kita tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan, baik melalui pemikiran (asal jangan omdo), tenaga, maupun secara financial.

“Semoga Bermanfaat”

Terima Kasih

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,324 other followers

%d bloggers like this: